UA-51566014-1 Catatan Harian

Sabtu, 23 Agustus 2014

Akan tiba suatu masa ketika pada akhirnya kita bingung mau apa. Bagi saya, inilah waktu itu..

Setelah menjalani 3 minggu bersama mereka, karakter yang tadinya abu-abu di mata saya mulai bermunculan. Their true colour comes up. Tentu saja sebagai orang yang sama-sama mencari ilmu (red: nilai juga), KKN adalah rentetan lorong yang rasanya tidak habis-habis dijelajahi. Sangking panjangnya, kita lelah mengejar pintu terakhir dan memilih bergabung dengan penumpang di sepanjang jalan itu.

Mata kuliah ini seperti shock therapy di tengah kebosanan terhadap kehidupan akademik dan organisasi. Semua begitu semu sebagai ilmu, di sisi lain terlalu kaku untuk disebut mata kuliah. Bagaimana tidak, di kehidupan akademik mana yang ada pelajaran menyalakan tungku.. Atau mempresentasikan tingkat kesopanan di hadapan para warga. Apalagi SKS yang isinya seni mendalami karakter.

Mau tidak mau, kita dipaksa untuk tau bahwa sabda yang keluar dari mulut para dosen, pada kenyataannya cuma membantu seujung kuku. Dan hepotesis yang timbul dari buku-buku, bisa dibilang pemanis paling pahit dalam menjalankan 30 hari di sini. Bukan bermaksud sok atau apa, tapi segala sesuatunya benar-benar senjang. Banyak sekali antithesis yang membukti bahwa duduk 15 tahun di bangku pendidikan sama sekali bukan jaminan kecakapan. Ada sejumlah faktor X yang kalau dirinci satu-satu sudah seperti jerapah kebanyakan kalsium, Panjang.

Di sini juga, lagi-lagi saya harus menjawab pertanyaan paling muskil sepanjang hidup,
Pertanyaan itu adalah:

“Kenapa kamu ambil jurusan sastra Indonesia? Nanti kerjanya apa? Kuliahnya bagaimana?”

Jujur saja, orang yang mengajukan pertanyaan itu sesungguhnya tidak mengetahui perasaan yang ditanyai. Tipe2 yang kalau di kampung saya sudah meneriakkan ini di belakang punggung:

Pegawean Loyang!

Mereka masih satu tipe dg tante dan saudara2 di rumah yang menganggap bahwa jurusan paling gemilang di muka bumi ini hanya ada 3. Kalau bukan Kedokteran, Teknik ya Ekonomi.

Padahal kalau semua orang berpikir jadi dokter, siapa yang akan membuat bacaan bermutu untuk anak-anak. Kalau seluruh penduduk Indonesia adalah Teknisi, siapa yang bisa mendidik karakter muda-mudinya dengan asupan seni yang bergizi. Dan Kalau semua jadi ekonom, siapa yang melanjutkan tradisi bercerita dengan bahasa sederhana tapi bermakna? Siapa?

Tapi ya ngga pa2 sih, toh, saya mengambil jurusan ini karena renjana. Karena otak saya terlalu terbatas untuk memvisualisasikan bagaimana rasanya kerja di bidang yang tidak disukai. Lagian guru matematika privat saya pernah bilang, “Pelajari satu bidang yang kamu sukai. Tekuni, jadikan itu sebagai profesi. Maka kamu tidak akan pernah merasa bekerja, tapi berbahagia.”

Back to KKN

Sampai detik ini aku bersyukur karena tidak jadi revisi krs pada maret 2014, karena tidak jadi menyesali apa yang harusnya aku syukuri. Setiap saat adalah saat yang berkualitas. Betapapun muaknya, bagaimanapun jerinya, seberapa pun kerjaan datang bertubi-tubi.. Segalanya terasa manis dan pas bila dipandang dari sisi yang tepat. Bahkan kalau ini mata kuliah sunah (red: pilihan) pun akan tetap saya ambil. Berkat KKN saya jadi tau bahwa laki-laki adalah makhluk yang kalau habis makan piringnya tidak pernah dicuci. Tidak bisa nyetrika dengan rapi, bahkan sekadar basa-basi dengan tetua pun pake acara dorong2an dulu. Intinya, umur 20an masih tahap belajar dan belum bisa diandalkan dalam urusan rumah tangga.

Tapi ya nggak papa sih, toh, masih 20an juga. Waktu di mana seseorang belajar keras, lalu mengambil keputusan yang tepat atau justru membuat kesalahan besar.

Saya berterimakasih kepada Undip yang sudah mewajibkan pengais ilmunya menetap di desa terpencil. Kata Rosulullah menuntut ilmu itu sampai negeri Cina. Temanggung masih belum Cina, tapi bisa dibilang berharga untuk diingat.

Di sini saya merasa tinggal di Pesarean th 90an. Tapi yang keren adalah organisasi pemudanya sangat hidup, banyak kegiatan masyarakat juga, sehingga walaupun penghuninya berpencar ke mana-mana, mereka akan selalu punya atap untuk pulang. Pesarean, apa kabar?

And well, God always has a way to insert a sense of happiness…

Entah itu dalam bentuk rasa, persahabatan, teman, hubungan, pengalaman tak terlupakan dan juga seseorang J


Sabtu, 09 Agustus 2014

Dini hari Minggu, 10 Agustus 2014

Suatu sore ketika tim yang mulai hangat menjelang panas ngobrol tentang LDR

A : Eh, LDR tuh gampang tau.
B : Ah apa enaknya jauhan.
A : LDR beda kota, beda benua itu gampang.
     Yang susah LDR beda tempat ibadah.
B: Ya nggaklah, paling susah itu LDR beda Alam.

di salah satu sudut saya cuma bisa berujar dalam hati, 'berarti bapak dan ibukku dong'.

Dalam suatu rapat Karang Taruna

Bpk Kadus : Mbak, kulo lak kesupen lagu nasional sing enten pemuda-pemudine niku.
Kami          : Sing kados pundi pak?
Bpk Kadus : Nggih duko. Cobi dipadosaken lirike.
Kami          : Nggih mangke tak takenaken mbah'e 
Bpk Kadus : Lah mbahe daleme teng pundi to?
Kami          : Lak nggih caket..

Padahal dalam hati bilang, "mbah Google pak maksude."

Rabu, 06 Agustus 2014

Kaloran, 7 Agustus 2014
           
Waktu menunjukkan pukul 08.25 WIB ketika saya menulis ini. Sudah siang, malah terlalu siang untuk berbasa-basi dengan rasa malas yang hadir setiap fajar menjelang. Tapi ini temanggung, tepatnya di Desa Geblog Kecamatan Kaloran, tempat dimana matahari selalu menampakkan rupa yang nyaris sama, dan kabut senang sekali mengintervensi suasana sehingga pukul 9 pun terasa jam setengah 7 di Semarang. Apalagi hawa dingin masih berderak di lantai-lantai yang kami injak, membuat segalanya terasa pas untuk kembali menggulung diri di balik selimut yang sempat direnggut kewajiban menghadap.

            There’s no grow in comfort zone and there’s no comfort in growth zone. I have to leave my comfort zone to grow.

Kata-kata yang saya baca dari salah satu buku itu lagi-lagi membuat sadar, segala sesuatu memiliki syarat tersembunyi. Pengembangan misalnya. Jika kita ingin terus menjadi individu yang baru dan kaya pengalaman, kita harus siap ditantang ketidaknyaman yang hadir dalam zona baru. Orang Jawa bilang ‘Jer basuki mawa bea’, bahasa indonesianya jika kita menginginkan sesuatu maka harus siap mengorbankan sesuatu pula, analogi dan implikatur bahasa inggrisnya ya seperti di atas itu.

Ngomong-ngomong soal ketidaknyamanan, di sini sangat tidak nyaman. Ada semacam cultural shock, juga berbagai adaptasi yang harus dijalani, baik dengan lingkungan, teman dan alam. Seperti sudah saya sebutkan tadi, temanggung memiliki zona langit yang tidak konvensional. Subuh saja rasanya masih seperti tengah malam, dan dinginnya ituuu… sungguh tidak mufakat bagi orang-orang pantura. Jangankan  mandi sehabis subuh, wudhu saja sudah bikin gigi gemelutuk. Setelah sempat merasakan dingin yang serupa di Bantir, untuk pertama kali sejak 2 tahun lalu, saya kembali merasakan dingin yang sampai bikin pegel. ‘Dingin menusuk tulang’, rasanya sudah bukan idiom lagi.

Ketidaknyamanan lainnya adalah…. Banyak! Salah satunya harus memakai jilbab kemanapun, bahkan kamar mandi. Ya karena di sini kami tinggal serumah dengan komposisi 2 cowok 4 cewek. Setiap selesai keramas harus pakai hair drier, meski saya tau itu menyakiti rambut. Di sini saya sulit mendapatkan vitamin D karena tidak ada ruang terbuka yang aman. Sudah begitu mandi harus selalu antri. Tapi ya mau bagaimana lagi.

Dan tidak nyaman bukan berarti tanpa pelajaran.

Keuntungan berada di Temanggung juga tidak kalah banyak. And I don’t want to deny the favors of God.

Pemandangan di sini itu luar biasa. Maklum, setelah 21 tahun melihat sawah dan 3 tahun melihat jalan raya tiap keluar rumah, melihat gunung tepat di samping rumah itu sungguh sangat langka. Rasanya seperti jatuh cinta pada pandangan pertama. Kita kagum, kita suka dan kita ingin selalu melihatnya, tapi sekaligus tidak memiliki deskripsi yang tepat untuk membahasakan kekaguman. Subhanallah 100X pun rasanya masih jauh dari cukup. Dengan ini saya jadi tau kenapa orang yang sudah mendaki selalu ketagihan untuk kembali.

Di sini saya melakukan segala sesuatu serba terjadwal. Makan, mandi, sarapan dan terutama sholatnya sejauh ini selalu berjamaah. Alhamdulillah, walaupun satu tim ada yang non-islam, toleransinya sudah tegangan tinggi.
.
.
.
.

Saya jadi sadar, bahwa kuliah memang gerbang dari banyak sekali keterkejutan dan pelajaran. Setiap semester beda tantangannya. Di Semester 6 kali ini, KKN adalah bintang utama yang (semoga) luar biasa. Apapun yang didapat di dalamnya lebih dari sekedar mata kuliah, makanya tidak cocok kalau hanya diberi bobot 3 SKS dan dinilai dalam bentuk A serta kroni-kroninya.

Jumat, 01 Agustus 2014

Pintu Kemana Saja



Belakangan ini saya cepat sekali bosan. Pada pagi, siang, sore dan malam yang sama. Sama-sama nyaman dan tentram. Namun, ketika sendiri, saya sadar bahwa kenyaman selalu menghayutkan waktu seseorang pada suatu kemandekan, membuatnya merasa bahagia itu memang sederhana tapi mahal harganya, hingga di ujung kebahagian tersebut waktu kembali menyadarkan tentang apa-apa yang belum terlaksana.

Setiap kali liburan nyaris berakhir. . .saya hampir selalu menyesal. Entah, menyesali perjumpaan serta kebersamaan yang terlalu sebentar. Atau justru menyesali kenapa liburan datang dalam porsi yang membingungkan: sebentar tapi bermakna, lama tapi biasa saja. Dan lantaran saya mengalami yang pertama, maka segalanya terasa tak berjeda, beruntun laksana kereta api dengan gerbong silaturahmi  wajah lama yang masing-masing dari mereka menyimpan cerita di memori saya.

ada rasa malas yang berjelaga dan mengganggu pikiran, menderu seperti peluru untuk menghalalkan keluhan pada tempat yang sejatinya tak pernah memberi rasa aman. Bahkan tidak untuk tidur berkualitas yang seharusnya menjadi hak semua orang. Sayangnya, toh, saya terlanjur nyaman dengan tempat itu. And I wanna be a strong wall in the hard place.

Sungguh, di dunia ini, satu-satunya benda yang paling saya inginkan adalah ‘pintu ke mana saja’. Konyol memang, bahkan sama sekali tak memiliki setitik pun alasan baginya untuk disebut logis. Namun, andai selalu memiliki jalannya untuk membuat orang terpukau. Karena namanya saja andai, jadi dia harus berada pada tempatnya sebagai pengobat utopia yang menawarkan fatamorgana.

Saya ingin berandai-andai memiliki benda itu, sekali ini saja.

Kalau saya punya pintu ke mana saja: kehidupan takkan pernah memberi kebosanan spasial, yang ada hanyalah penjelajahan yang meruang dalam setiap waktu luang. Saya ingin mendaki sumbing dan sindhoro yang kemarin-kemarin hanya mampu dilewati, duduk menatap sunrise di puncak selamet -yang 21 tahun hidup satu kabupaten- tapi hanya mewujud dalam bentuk verbal sebagai gunung. I wanna go to the land four seasons, as long as possible. Setidaknya bisa merasai dingin yang standar internasional atau musim di mana bunga-bunga tumbuh bermekaran lebih cantik dari definisi cantik itu sendiri. Terutama Edelweis, yang baru sempat saya lihat dalam bentuk layu karena turun dari asalnya ke Semarang.

Saya mau ke Edenham dan Edensore, dua tempat berdampingan yang keindahannya baru saya lihat dalam bentuk kata-kata. Mau mendengar sendiri bahasa perancis yang sengau, native speaker yang berbicara bahasa inggris seperti orang selesma, juga ingin tau aksen british itu bagaimana –kata teman saya inggris amerika yang sering di pakai dimana-mana itu kurang estetis dan tidak begitu sopan.

Masih dalam rangka mengkhayal, dengan pintu ke mana saja, saya ingin ke alam kubur. Jenguk bapak dan saudara yang lebih dulu menghadap. Jujur saja, kerinduan pada mereka sudah demikian gigantik. Meski heran juga, kenapa saya bisa begitu merindukan padahal jarak kami jelas-jelas tak tertempuh oleh apapun kecuali harus melewati gerbang bernama mati, kecuali lagi… ya dengan pintu ke mana saja. Mungkin dengan itu saya bisa insaf untuk tidak lagi mengkhayal seperti ini.

Kehidupan ini akan jadi petualangan tak terpetakan, jika dan hanya jika, ada pintu ke mana saja. Namun bisa jadi saya tak pernah benar-benar hidup karena tak tau harga jarak, dan proses bermakna menuju tempat-tempat tadi.

Entahlah, saya juga masih ingin percaya, God’s plan is always more beautiful than our desire.


Senin, 30 Juni 2014

Your children aren’t your children.
The are the sons and daughters of Life’s longing for itself.
They come through you but not from you.
And thou they are with you yet they belong not to you.
You may give them your love but not your thoughts.
For they have their own thoughts.
You may house their bodies but not their souls.
For their souls dwell in the house of tomorrow, which you can’t visit, not even in your dreams.
You may strive to be like them, but seek not to make them like you.
For life goes not backward nor tarries with yesterday.
Your are the bows from which your children as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite, and He bends you with His might that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrows that flies, so He loves also the bow that is stable.
(Darma, 2008:122) *Raffilus

            Sepertinya memiliki anak bahagia sekali ya. Bisa menggendongnya, melihat turunan wajah kita bercampur dengan wajah orang lain, menyuapkan bubur atau mendengarkan kegagalan fonologinya yang justru merdu. Beberapa teman yang sudah berkeluarga dan punya anak rajin update perkembangan putra mereka. Katanya membahagiakan, walau harus merelakan waktu luang apalagi waktu istirahat, memikirkan baju-baju dan kebutuhan lain yang harus dibeli. But it’s ok, it’s love.

Bukan, ini bukan karena aku perempuan dewasa yang tiba-tiba ingin punya anak ketika melihat anak kecil lucu. Atau hal-hal impulsif lainnya. Ini murni karena tema tulisan ini adalah anak-anak.

Anak kecil punya senyum paling tulus. Paling bersih dari pretensi apapun yang membuat orang yang disenyuminya susah untuk tidak tersenyum balik. Bahkan terkadang, membuat mereka tersenyum adalah suatu kebahagiaan tersendiri.

Mereka punya dunia sendiri yang tak bisa kita masuki. Kendati setiap orang dewasa pernah menjadi anak-anak, semua pasti lupa bagaimana cara menenangkan tangis yang sedang meledak, meredakan emosi yang tak jelas, dan alih-alih bingung terpaksa menyerah lalu bilang: “Sebenarnya mau kamu apa!”

Kita juga tidak paham dan jengkel sendiri melihat manusia kecil yang lebih memilih hujan-hujan ketimbang berdiam diri di rumah. Di sisi lain sering tertawa sok waras melihat anak kecil ngobrol dengan tembok. Tanpa sadar bahwa dirinya sendiri pernah melakukan itu (terutama cewek). Padahal beberapa orang dewasa jauh lebih absurd dengan memaki-maki, mengeluh dan nyinyir di dunia maya. Anak kecil pun tidak paham itu.

Berbicara dengan benda mati, hujan-hujan, rumah-rumahan, berlarian di siang hari yang panas gila, mencintai es setengah mati padahal rawan pilek, itu semua hanya implementasi keluguan mereka yang tak bisa kita sentuh. Sekali lagi, mereka punya dunia sendiri. Mereka dalam kacamata kita adalah anak-anak konyol yang harus dibimbing, sementara kita bagi mereka adalah manusia sok logis yang diktator.

Sebagai orang dewasa, seringnya orangtua lupa bahwa anak-anak punya pikiran sendiri, memiliki segudang cita-cita dan yang lebih utama yaitu punya perasaan. Pasti di antara kalian ada yang pernah merasa dipaksa atau (dengan sedikit menyesal) mengikuti apapun keinginan bapak/ibu.

Tidak apa. Asal bahagia dan ikhlas, itu termasuk berbakti pada orangtua.

Namun apa jadinya kalau orang tua menyetting anaknya menjadi seperti utopia mereka. Seolah-olah mereka Tuhan yang menentukan nasib dan anak hanya kepala tanpa rencana.

You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts.

            Sekali-kali mereka bukan segumpal daging belaka. Mereka punya hati, perasaan dan pikiran yang apabila ditekan terus-menerus akan memuai, dan pada akhirnya berontak.

            Bagaimanapun, setiap kita lahir melalui orang tua dengan membawa misi masing-masing. Misi yang merupakan rahasia Tuhan yang harus digali dengan segenap potensi. Orang tua dalam beberapa hal hanya pembimbing, rumah pertama yang harus merelakan penghuninya pergi suatu waktu.

            Sementara itu, posisi sebagai rumah pertama juga sangat penting bagi perkembangan seorang anak. Coba, andaikata ibunya Hitler tidak melahirkan dalam kondisi keluarga tidak menentu. Sang suami adalah pamannya sendiri yang entah kenapa suka menciptakan neraka bagi Hitler. Dan meskipun Hitler tidak cacat, malah cenderung jenius, ada ruang dalam dirinya yang dibentuk oleh keluarga. Ruang yang dalam perjalanan hidup Hitler mengendalikan sikapnya, menuntun langkah menuju predikat aktor fasis internasional.

 Ruang itu bernama jiwa.

            Maka, agar anak-anak kita nanti menjadi manusia yang berguna bagi nusa, bangsa dan agama, pertama-tama kita harus bercermin dulu. Lihat, introspeksi, jadikan kesalahan orang tua kita di masa lampau sebagai refleksi agar tak terulang lagi. Berikan kebebasan bagi anak-anak untuk menjadi yang mereka mau, bimbing, seperti dulu kita dititah dan setelahnya dibiarkan berlari menuju keinginan masing-masing.




Minggu, 15 Juni 2014

Romantika Semantik


            Ilustrasi di samping memang benar adanya. Linguistik adalah aspek bahasa yang selalu berurusan dengan struktur. Mulai dari level sintaksis, morfologi bahkan fonologi. Mempelajari linguistik, siapapun harus menyiapkan logika. (Jadi kalau anda gila, mohon untuk tidak menyentuh linguistic hehe). Ibaratnya, linguistik adalah matematikanya anak bahasa. Hanya saja, logika di sini lebih merujuk pada tataran pragmatis dibanding filosofis. Karena dalam semesta bahasa, ada bangunan tersendiri bernama filsafat bahasa yang membahas asal-usul bahasa, berdasar pada alam pikiran dan cara berpikir filosofis.

            Then, what the hell with semantics?

            Secara garis besar, linguistic dibagi menjadi 4 cabang pokok. Yaitu Fonologi (mempelajari bunyi bahasa), morfologi (Pembentukan leksem menjadi kata), sintaksis (mencakup tata kalimat dan bagiannya), dan yang terakhir semantic (tentang seluk beluk dan pergeseran arti kata). Tapi jangan salah, fonologi, morfologi, sintaksis dan semantic hanyalah cabang yang masih melahirkan ranting. Masih ada labirin macam sosiolinguistik, dialektika, pragmatic, linguistic historis komparatif dkk. Keempat cabang ini seperti lubang jebakan yang harus dipelajari dengan intensif dan hati kondusif. Apalagi sebagai mata kuliah bersyarat, ada saja mahasiswa yang terpaksa mengalami Ad Infinitum dengan masing-masing tahapan tadi. Sudah menjebak, bobot sksnya besar pula. Dari keempat aspek, hanya fonologi saja yang berbobot 2 sks, sisanya memakan 16 % jumlah maksimal KRS.

Well, linguistic memang menarik. Tapi soal konsentrasi, hanya ingin memillih apa yang sudah kucintai sejak semula. Sastra.

            Saya pribadi sih merasa sintaksis adalah yang tersulit dari ke empat cabang di atas. Soalnya, sintaksis selain banyak mengandung terminologi asing, juga secara materi terbilang banyak. Tapi sejujurnya pula, sintaksis paling nyenengin kalau dipelajari dengan pikiran jernih. Contoh, analisislah kalimat berikut berdasarkan kaidah peran, kategori dan fungsi. Serta sebutkan berapa frasa yang terdapat didalamnya:
Mahasiswa baru mengikuti program PMB yang diadakan fakultas.

Kata
Fungsi
Kategori
Peran
Mahasiswa
Subjek


Baru

Adjektiva

Mengikuti
Predikat
Verba

Program PMB
Pelengkap


Diadakan



Fakultas


Pemerlengkap

Isi sendiri.
Jumlah frasa: Mahasiswa baru            -Baru mengikuti
                        Program PMB

Nah begitulah sintaksis. Menganalisisnya tidak sulit (identifikasinya yang agak perlu perhatian). Dalam mengerjakan soal sintaksis, seseorang harus hapal definisi masing-masing aspek mulai dari pengertian frasa sampai kategorinya. Susahnya, sintaksis penuh dengan renik istilah yang saling berkaitan. Jadi kalau tidak ingat satu, terpaksa kerepotan mengerjakan lainnya. Tapi selama masih berpegang teguh pada definisi, sintaksis bukan masalah besar.

Bagaimana dengan semantik?

Okelah, kalimat di atas benar secara struktur. Tapi semantik membuatnya seperti kasus sendiri yang harus ditinjau ulang. Sadarkah anda bahwa kalimat di atas mengandung 2 informasi? Dan itu artinya ambigu. Ditambah lagi jika dilafalkan dengan suprasegmental tertentu, maknanya pasti akan berbeda pula. Padahal semantik tidak terima dijadikan alat untuk sesuatu yang ambigu.  Jadi dia akan mencacah kalimat itu sampai benar menurut definisinya.

Hal yang membuat sulit dari semantik adalah persahabatannya dengan semiotika (ilmu tentang tanda). Dalam hal ini, semiotika lebih sebagai partner yang memperkuat pemaknaan kalimat. Karena belajar semantik sama dengan memaknai makna, maka sedikitnya perlu paham konvensi umum yang ditarik dari segi antropologi dan budaya. Ya, semantik perlu dibantu disiplin ilmu lain sebab dirinya sendiri kurang disiplin untuk memaknai makna. Bahkan ilmu membaca ekspresi pun barangkali berguna bagi semantik. Hehe. (berguna untuk membaca ekspresi penutur). Tapi, justru karena banyak membutuhkan ilmu bantu, semantik sangat memperkaya pengetahuan kita. Mungkin awalnya tok yang terkesan seperti dihadang oleh adagium “Welcome To The Jungle.”

Asal niat saja, semua hal menyenangkan dalam proses belajar, tak terkecuali semantik.
Jadi ilustrasi di atas sebenarnya belum selesai. Kalimat utuhnya adalah begini:


That’s semantics. You must never go there. If you don’t have any preparation to fall in love with it.

Selasa, 03 Juni 2014

Membedah Feminografi Kris Budiman

Feminisme yang notabene gerakan penyejajaran status pria dan wanita, ditengarai memiliki berbagai faktor pemicu. Antara lain:
1. Media massa penyebar ideologi gender
            Gender biased yang telah lama mengakar tidak terlepas dari peran besar media massa. Selain sebagai penyalur informasi, media juga membentuk pola pikir masyarakat dengan semiotika dan slogan-slogan yang membelah pria-wanita berdasarkan karakteristik maskulinitas dan feminis. Mata, telinga dan pikiran masyarakat dijejali dengan stereotipe gender yang secara khusus mencirikan bahwa perempuan adalah makhluk kelas dua dengan ranah dapur, pupur dan kasur. Sementara laki-laki dengan segala superioritasnya mendominasi dunia di luar tiga hal tadi. Ironisnya, kemajuan teknologi serta upaya penyejajaran kedudukan antara pria dan wanita, terbatas pada reduksi bentuk pengekangan. Tidak percaya?
            Hampir semua superhero dalam film barat, (apalagi) Indonesia, berjenis kelamin laki-laki. Meski di satu sisi kita juga mengenal Wonder Woman, ia masih seorang pahla(wan/wati?) yang juga eksebisionis dalam segi sensualitas. Sedangkan superhero laki-laki memiliki dunia maskulinnya sendiri dan (hanya) menempatkan perempuan sebagai pemanis kehidupan tanpa mengganggu tugas super mereka. Contoh lainnya majalah perempuan. Pernahkah anda menemukan majalah perempuan atau bahkan “wanita” yang mengangkat tema politik, kebudayaan serta hal-hal berbau intelektual lainnya? Saya pribadi belum pernah. Untuk menemukan tema-tema ‘angker’ seperti itu, seorang perempuan harus lari pada Koran yang santer dengan image ‘bacaan bapak-bapak’. Karena isi majalah perempuan sendiri hanya berkisar antara kecantikan, mode, etiket pergaulan dan gossip selebritis. Oia, satu lagi, tips mempertahankan hubungan atau tips menghadapi pria hidung belang!. Ironis sekali. Media, di balik misi menghiburnya, ternyata membentuk pola pikir masyarakat agar sepakat untuk tidak sepakat bahwa pria dan wanita adalah sejajar. Secara parsial, media turut mengamini dan (entah dengan atau tidak) sadar mendengungkan issue perempuan dibesarkan untuk menyiasati sikap laki-laki. Dibesarkan untuk menjadi cantik agar selalu mendapat tempat di sisi yang mendominasi. Belum lagi jika membicarakan iklan yang penuh unsur seksisme. Walah.. tidak terhitung!
2. Politik Busana
            Hah? Busana berpolitik?
            Itu pasti komentar retoris pertama yang muncul dari pernyataan di atas. Dan jawabannya adalah YA.
            Busana yang dalam pelajaran muatan lokal memiliki definisi sebagai instrument yang berfungsi untuk melindungi tubuh dari ganasnya alam, telah amat sangat mengalami perluasan makna. Rok mini contohnya, dari segi apapun perempuan serba direpotkan ketika mengenakan busana “tidak maksud” ini. Baik saat duduk, menungging, jongkok apalagi berdiri di tengah terpaan angin. Sebenarnya perempuan mengenakannya juga karena terpapar pandangan pria yang konon katanya MENCINTAI KEINDAHAN. Sedangkan kaum hawa hanyalah makhluk yang tanpa pretensi apapun memiliki kebutuhan besar untuk diperhatikan. Tidak peduli perhatian itu dalam wujud pujian, kekaguman bahkan pandangan menjijikan.
            Mode politik busana ini dari zaman ke zaman terus mengalami Ad Infinitum. Mulai dari Jawa jaman saya belum lahir, sampai jawa ketika saya membuat ulasan ini, busana perempuan masih sarat oleh unsur seksisme. Lihat saja kebaya atau kemban yang serba ketat dari atas sampai bawah, depan-belakang, bahkan hingga ke dalam yang seringkali membuat sesak nafas. Otomatis busana elegan yang saru ini membatasi gerak perempuan, jangankan untuk berlari, untuk berjalan saja barangkali bisa dibuat lomba sama bebek. Sekali lagi, saking feminimnya. Dan yang lebih irasional adalah wisuda. Di zaman yang Hulk saja bisa diringkus, perempuan dengan tidak masuk akal berdandan subuh-subuh hanya untuk berkebaya, sementara jubah hitam yang panjangnya sedengkul sudah menanti untuk menutupi. What the heck! Sayangnya ini sudah terlanjur membudaya. Saya juga belum tentu bisa menentangnya. Hehe. Walaupun belakangan sudah mulai berpikir kalau wisuda nanti akan merias wajah saja, dengan berpakaian kaos dan bawahan rok kebaya pinjam ibu. Kan praktis, bahkan kalau perlu yang dandanin juga ibu! Atau kalau ada gerakan tidak usah berdandan, saya akan langsung berdiri di shaff pertama.
            Di satu pihak ada beberapa feminis yang mencoba berpakaian ala pria. Seperti kemeja, celana, kaos dan apapun yang jauh dari keriweuhan (dan jujur, nyaman sekaliii). Namun, pernahkah anda berpikir bahwa tindakan tersebut justru terlihat mengamini bahwa diam-diam perempuan mengakui superioritas lelaki. Yakni maskul(in)isasi perempuan. Politik busana ini secara sosial diperbolehkan. Sementara laki-laki tidak ada yang mengalami feminisasi busana, kecuali dia banci atau tuntutan profesi. Tapi dikotomi busana, bagaimanapun menjadi ranah yang sulit dimengerti. Perempuan tetap dianggap objek, sepria apapun dia berpakaian. Buktinya di dunia yang sangat mainstream ini, pelecehan seksual masih banyak dimotori oleh makhluk bernama laki-laki.
3. Perempuan dari Kacamata Seni(man)
            Sejauh ini, perempuan hanya dijadikan objek seni. Seperti model patung, model lukisan dan yang modern tentu saja model fotografi. Ia dijadikan objek eksploitasi yang ditempatkan dalam sudut tergelap untuk memamerkan dirinya. Tentu ini dilakukan oleh seniman laki-laki yang mencintai keindahan tadi. Sedikitnya, ini mendedahkan fakta bahwa perempuan (dengan segala eksebisinya) masih dalam taraf objek yang dituntut, bukan subjek yang berbicara. Sadarlah, hey para model yang pakaiannya kekurangan bahan! Semakin kalian memamerkan keindahan yang entah dimaksudkan bagi siapa, semakin terlihat bahwa kalian adalah makhluk puritan yang memposisikan diri sebagai benda pemuas. Mengapa pula harus berbahagia atas ketenaran tidak prinsipil yang harus merendahkan diri serendah-rendahnya.
4. Bahasa(wan)ita
            Tahukah kalian apa itu emansipasi? Pasti tahu dong. Kalau nggak tau pulang saja ke jenjang TK, karena SD pun sudah banyak yang tau. Itu loh, istilah yang menemui panennya setiap bulan April. Yap, Indonesia memiliki Kartini sebagai ujung tombak emansipasi. Kartini merupakan pahlawan (lihat penyebut gelarnya, pahla-WAN) perempuan yang menuntut penyejajaran peran dengan laki-laki. Putri Jepara ini menuntut dengan cara menulis, bukan bermodel ria atau memasuki dunia absurd lainnya untuk meneriakkan ketidakadilan. Emansipasi bisa dibilang kakak-adikan sama feminisme. Tapi feminisme yang belum banyak makan asam garam kehidupan masih sangat bias. Emansipasi itu gerakannya, sementara feminis lebih ke sifat dan orangnya. Kendati bertolak dari unsur yang sama, yakni penolakan terhadap dominasi patriarki, emansipasi fokus pada peranan perempuan. Sedangkan feminisme yang banyak jenisnya itu masih kurang terarah (mungkin karena sejarahnya masih singkat dan polarisasinya tidak nggenah kali ya).
            Apa kaitan antara feminisme dan emansipasi dengan bahasa sebagai faktor yang mempengaruhi hubungan pria-wanita? Sebenarnya mitos kebahasaan feminisme itu banyak sekali, tapi baiklah, mulai dari yang terdekat. Perempuan dengan segala kerendahan hatinya telah dicap sebagai makhluk cerewet, tukang gossip, tukang curhat atau apapun yang memberdayakan kinerja mulut. Padahal dalam interaksi sehari-hari, prialah yang cenderung memulai pembicaraan, melakukan first move dan tak jarang pula mendominasi. Sebenarnya sah-sah saja, tapi pertanyaan mendasarnya adalah “alasan fundamental apa yang menyebabkan perempuan dicap sebagai makhluk bermulut besar?”. Itu contoh satu.
            Kedua, penyebutan istilah yang berhubungan dengan profesi: sastrawan, wartawan, pahlawan, cendikiawan dsb. Bahkan yang lebih sensitif lagi, Tuhan menggunakan persona “He”. Tentunya ini menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang kendati impulsif terus menerus menghantui otak. Haruskah para feminis membuat istilah “cendikiawati” untuk menunjukan sisi inteleknya? Juga, kenapa harus dalam kata “woman” ada unsur “man” yang memperbesar syak wasangka bahwa perempuan berhutang budi pada laki-laki sejak dari tulang rusuk. Sayang (belum) pernah ditemukan penelitian mendalam mengenai linguistik historis komparatif agar peristilahan ini dapat terjelaskan sejelas-jelasnya kejelasan. Padahal ini menarik sekali, hanya saja terlalu utopis seperti mengejar horizon, karena harus mengurutkan sejak zaman nabi adam As. Tapi saya pribadi kurang tau, belum pernah ngubek2 jurnal ilmiah seluruh dunia tentang ini soalnya.
            Demikianlah faktor yang mempengaruhi feminisme (menurut feminografi Kris Budiman). Sebenarnya ada satu hal lagi bahasan, tentang dua orang feminis internasional yakni Julia Kristeva dan Helen Cixious. Tapi karena keterbatasan daya kerja mata, akhirnya cuma bisa menarik kesimpulan:
            Feminisme merupakan upaya menumbangkan oposisi biner hierarkis antara laki-laki dan perempuan yang terlanjur dianggap sebagai hal “kodrati”. Feminisme bukan upaya egaliter dan borjuis agar perempuan mendapat hak atas kekuasaan. Jadi, para pria, perempuan tidak picik-picik amat kok tentang hal-hal berbau dominasi. Kami hanya risih dipandang sebelah mata, atau dinilai dengan sudut pandang laki-laki yang rumit dan (kurang) menyenangkan itu. yah. . . walaupun fakta di lapangan ada sebagian yang sukarela dan ikhlas2 saja “diseperti-itukan”.
Sekian, terimakasihJ

Daftar pustaka:

Budiman, Kris. Feminografi. 1999. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.