UA-51566014-1 Catatan Harian

Google+ Badge

Selasa, 07 Juni 2016

ASDFGHJKL

Sometimes we don't get ourselves. Sometimes we live just because we are alive. Do nothing that meant to be something. Purely useless like the definition of scum.

Actually,
It's freaking me out.

Everything seems so temporary. Too temporal that you couldn't keep anything you like to stay longer than it should be. You couldn't hanging out with the buddies of yours overlong, you can't depends on your parents forever because the word forever itself was never exist.
Hence, you should not attached too much to any being on this earth.

Yeah, we should not attached to anyone.

We shouldn’t. We couldn’t.

Actually,

It's freaking me out.

Minggu, 24 April 2016

but EVERYTHING IS NOTHING

I need someone to talk about nothing. Drag me into endless laughter, to get to know that life itself is the most ridiculous joke. We need to be crazy to understand it.

I need someone who occupied my mind with nothing but smile. Maybe like an idiot. Wanna know why? Because I'm an imbecile who would cried over something if it doesn't has a good ending eventually.

I need someone who daft enough to ensure that happiness mere artificial. Anything that could be measured is not happiness. Anything that society called achievement is not happiness. Anything that makes people forget about themselves is not happiness. How come we would be happy if we are lost? Tell me how come. . . how can it be!

Then 'that crazy someone' would lecturing me that happiness is wordless. Happiness is we ourselves.

Since we are complete we don't need to describe a shit so called happiness.

I need a contagious laughter which filled up this labyrinth with silliness. The deep silliness which means everything.

I need a great crap that will trap me in delight. Crap yet genuine, as the sun which burn us up but we can do nothing because it's naturally important.

I. . .
 N. . .
   E. . .
     E. . .
       D. . .

Ah, it sounds like I need the whole universe. Everything.

Everything is nothing, isn't it?

Kamis, 31 Maret 2016

3 months of solitude

Hello. . . long time no write. Yeah, it’s been age since my Skripshit period, oh no.. Skripsweet (still doesn’t match, does it?), Oke, just called it ‘Sweet Sorrow’ episode. Since that time, I felt like loosing every inch of my will to write anything, anywhere. I almost never update my social media account, even rarely write down what happen in my life on a diary. Just go with the flow as time passed and it sorely horrible.

So here I am, try to figure out what’s on my mind by write this note. Actually I lack of confident since I’m barely write anything, kinda afraid that I lose my ability of it and can be my worst of all. Plus this is the first time I write in English (well, note very first, but perhaps in a proper way). So, I’ll warn you first, if you can’t stand with a mess grammar, stop your reading activity here, right now. But if you could understand it, I’m glad to have you as a reader (you can just tell me where’s the mess and I’ll try to fix it).

After graduate, I really messed up my life with doing nothing. Particularly, in which activities like daily routine as a student, hanging out with friends and a simple thing like my usual habit: eat and sleep late. My mom insist to back me home because she found my badass habit. She hate everything that I do and called it ‘student disaster’ haha. My every normal just her opposite, because yeah, we life in different environment for years. Mom was right overall, but, who on earth will sleep before 10 p.m just to be able woke up early then do cleaning activity. In the first two weeks I feel like jailed by told which is wrong which is right. In short, my comfort zone has changed.

To be told what’s good or not when you've been adult was kinda weird. But actually, you are the weirdo. Oke, not you, it’s me. the condition become worse when I realize that I literally jobless. Have no money to cheer myself up, bought a book or ate a nice food. I'm a person who usually through the time with list to do, bumped into 'nothing to do' condition. All I have just an unlimited free time where day by day passed without taste. The worst part is when someone ask you, "What exactly are you right now?". Snap!. My heart aching every time I heard that. You know, it's really hard to face people when you're unemployment. Seems like everyone try to pouring a salt on your wound with their question.

it about 3 months I've been like that. What am I to do during that time? Well, sometimes I go to local library, looking for books which suit my taste but unfortunately the good stock wasn't as many as the library where I frequently visit. It sucks the way college affect my ideal type of literature so much. I become picky and barely read a popular and common literature such as teenlit or metropop. Basically, I hate a plot where a girl become weird just because her lover leave out. Is love really turn people become that dumb? And what I hate the most is a plot where the women suffering a  pregnancy time because no one take care of her, in a nutshell, she has no husband. Gosh, who told her for being madly in love without using any logical sense. It's not even make sense as if there's no God in our heart. I logically sad whenever I read that kind of story. Despite of going to the library, sometimes, no, it almost everyday I read fanfiction of KPop idol. My ex housemate told me that there are many good story  in a few situs. First time I read FF, I don't like it that much because the language was english which torment me a lot, beside the story was kind of popular literature. It's a paradox isn't it? I don't like popular literature but try to fix my displeasure because I need something to read. Seems like God forced me to not too stick with my ideal type and it's works. I've more appreciate all of literature genres because, hey, can you even make one? It's not fair if I judge a story by its genre.


To be continued...

Kamis, 21 Januari 2016

#1

Bagi saya, jika ada hal yang paling sulit dilakukan di dunia ini, adalah meminta maaf dan memaafkan. Hal termudah pun hampir senada, meminta maaf dan memaafkan. Pembahasan mengenai kata maaf ini hampir sama mustahilnya seperti soal kalkulus untuk anak bahasa. Seolah bukan pada tempatnya, tak pernah tepat, dan mengapa tidak kita berbicara mengenai kisah cinta saja, yang ada abadi dalam dongeng-dongeng serta hampir semuram mitos.

            Mungkin, maaf selalu sulit ketika ia berkaitan dengan hati, gudang penyimpan rasa yang tak ada hubungannya dengan indera pengecap. Setiap hati selalu memiliki peraturan sendiri. Jika ia baik maka baiklah segala tentangnya, jika buruk maka penjara paling gelap akan kita temukan di sana. Hati dengan peraturan-peraturannya itu adalah prerogatif individu, tak tersentuh seolah ia ruang terjauh, tak terukur bagaikan samudra paling dalam. Dan suatu ketika, kata maaf hanyalah susunan huruf dan suara yang tak pernah sampai.

            Benar bahwa maaf tak pernah mengembalikan kerusakan apa pun. Tak pernah. Tak perlu kau beri contoh gelas pecah atau apalah, semua terlalu jelas untuk dibicarakan dalam ruang dan waktu yang tak bisa disetel mundur. Manusia adalah debu dalam roda yang berputar ke depan, sekali salah, ia takkan berakhir menjadi benar hanya karena persetujuan atas sebuah maaf. Tapi apakah manusia normal pernah berencana merusak hidupnya dengan rasa bersalah? “Ah, lima menit lagi aku mau meracuni makhluk sombong itu.” atau “Pengecut pantasnya dibuang ke laut sehabis mandi”, tidak kan?

            Lagi pula, kebencian adalah perasaan yang melelahkan. Ia lebih omong kosong dari janji-janji, harapan-harapan dan horizon ekspektasi. Ia perlahan memakan kebaikan, dan setelah dilumat oleh marah yang bertubi-tubi, kita akan menjadi asing pada diri sendiri. Diri kita yang baru tak pernah memberi ruang untuk kedamaian karena ia memasang terali berupa kesempurnaan. Sempurna untuk apa yang terlanjur dirusak, sempurna untuk perjanjian bahwa kompensasi atas kata maaf adalah keadaan seperti semula. Nonsense? Tentu saja! Lebih irasional lagi jika setelah perkara maaf selesai, kita harus bertingkah seolah tak ada apa-apa.

            Apa yang sedang coba saya sampaikan, tidak lain, adalah usaha untuk lepas dari perasaan benci yang sudah mengarat. Waktu untuk memberi syarat atas luka selalu bisa ditebus dengan hal-hal membahagiakan. Kita masih hidup, tinggal di bawah langit yang dua kali sehari berubah warna, maka segala sesuatunya mungkin. Ada bilangan kala tersisa untuk senyuman yang bisa diusahakan. Dibanding bersikukuh pada kebencian yang semakin omong kosong, dan berjelaga seperti mau memberi gelap pada dunia kita. Setiap orang memiliki hak meminta dan diberi maaf, jika tidak, dunia akan selalu merah oleh darah karena nyawa dibalas nyawa.

Saya cukup normal untuk menginginkan hati yang bersih, dan hati yang bersih tak layak menyimpan benci di dalamnya. Seperti kata Agus Noor, "Aku percaya: langit paling luas ialah hati tanpa kebencian."


Sabtu, 10 Oktober 2015

Selamat Jalan Mbak (Sekali Lagi, Rasa Sayang yang Tak Sampai)

Masih segar dalam ingatan, ketika kau yang menjadi sumbu dalam sebuah lingkaran, menasihati kami yang tampak jahiliyah, sombong dan  penuh rencana seolah akan hidup selamanya. “Menjadi orang sibuk itu bukanlah hal yang hebat, melainkan suatu keberuntungan karena bisa memaksimalkan waktu dalam kebaikan.” Ujarmu kala itu, sambil sesekali menatapi kami satu persatu.

Entah itu pertemuan ke berapa, namun sepertinya ada banyak sekali waktu (yang sekarang nampak ilusif), di mana aku seharusnya mendengarkanmu. Menekuri kalimat demi kalimat dan menekan nafsu bercanda yang agak keparat. Meski demikian, kau tetap tersenyum manis, menegur kami dengan pandangan teduh, lebih teduh dari langit sesaat sebelum gerimis. Kau memang punya pesona itu, semacam  pembawaan yang  membuat lawan bicaramu santun tanpa perlu segan.

Pasti, ada banyak sekali orang yang menyayangimu, dan apalah aku dibanding mereka semua. Setitik makna pun barangkali tiada. Namun, rencanaNyalah yang menautkan hati kita, hati kami dalam lingkaran kecil tempat berdiskusi, mempercakapkan kabar rohani dan apa saja asal bukan boyband korea. Aku tahu, adalah rencanaNya untuk mengenalmu meski sebentar, terlalu sebentar bagi orang yang kemudian jatuh sayang. Lingkaran itu, kalau boleh kubilang lebih berfaedah dibanding kelompok manapun yang mencatat namaku sebagai anggota. Kenapa? Karena kita saudara, sebagaimana doa rabithah yang senantiasa kau baca.

Hari ini, pukul 15.30 WIB lebih tepatnya, Allah memanggilmu kembali. Mendengar kabar itu, hatiku serasa kosong, dan pikiran pergi tanpa permisi ke suatu tempat yang tak kutahu tepat. Seperti distraksi, di mana otak tak sinkron dengan hati, atau otak dan hati sejalan, namun tubuh terlalu fana hingga mematung tanpa melakukan suatu apa. Bukan berita kematian membuatku sedih hebat, yang mengejutkan justru perasaan ditinggal, seakan hal berharga dicerabut paksa dari tengah kami. Rupanya aku belum kebal, dan menganggap kematian adalah sesuatu yang begitu jauh dari realita. Lagi-lagi perasaan tersebut hadir, bahwa hidup sedikit tak adil, bertemu-saling mengenal-sayang-sayang-sayang-berpisah begitu saja. Berpisah, bahkan tanpa selamat tinggal yang cukup memadai untuk melanjutkan hidup tanpa orang bersangkutan. Pola semu yang seperti mau membenarkan kata Chairil Anwar, Hidup hanyalah menunda kekalahan.

Padahal siapa kita? Memiliki diri sendiri saja tidak, mengapa ada acara tak ikhlas segala. Sejenis debitur yang tak tahu diri! Bukankah segala sesuatu lebih baik pada tempatnya, pada pemiliknya? Lantas tak cukupkah pinjaman waktu untuk berjumpa dalam ketaatan padaNya?

Ah, sebenarnya kita terlalu dewasa untuk membahas itu lagi dan lagi. Kita terlalu dewasa untuk menangisi sesuatu yang seterang aksioma.


Mbak May, selamat menempuh hidup baru Mbak. Bersama Maha Cinta yang (semoga) menyayangimu lebih besar dari cinta mana pun yang didefinisikan manusia. Allah baik sekali sudah mengenalkanmu padaku, akhwat tangguh, inspiratif dan senantiasa berjuang di kala sehat dan sakit. Nisa sayang mbak May. Insya Allah mbak dapat tempat yang baik, sebagaimana mbak pernah bilang, "tempatkan Allah sebagai cita-cita tertinggi kalian, dek". 

 Jazakillah atas segalanya.

Minggu, 13 September 2015

Epigram dan Selingan


            Frederich Nietzsche dalam bukunya Beyond Good and Evil menuliskan beberapa epigram mengenai kehidupan. Dan inilah kalimat-kalimat manis yang sudah saya list, check this out:

1. Pengetahuan demi pengetahuan itu sendiri’—ini adalah perangkap terakhir yang dipasang oleh moralitas, menjerat kita sepenuhnya sekali lagi.

2. Kecintaan pada satu orang adalah barbar, karena ia dilakukan dengan mengorbankan orang lain. Bahkan kecintaan pada Tuhan.

3. Bukan kekuatan dari perasaan-perasaan besarnya, tetapi ketahanan perasaan itulah yang menandakan seorang manusia besar.

4. Beberapa burung merak menyembunyikan ekornya dari semua mata – dan menyebutnya kebanggan.

5. Seseorang yang memandang rendah dirinya sendiri masih menghargai dirinya sebagai seseorang yang memandang rendah dirinya sendiri.

6. Mengerikan jika mati kehausan di tengah laut. Apakah kebenaranmu harus sedemikian asin, sehingga ia bahkan tidak lagi dapat –meredakan dahaga? (kebenaran bukan lagi kebenaran jika dikultuskan, ia menjadi sebuah keyakinan. Maka, menirankan kebenaran justru menghilangkan fungsi ‘benar’ seperti bagaimana harusnya).

7. Laki-laki dan perempuan memiliki emosi yang sama, tetapi temponya berbeda: inilah mengapa pria dan perempuan tidak pernah berhenti salah memahami satu sama lain. (Setuju, kadang-kadang).

8. Hati terikat, jiwa bebas. –jika kau mengikat dan merantai hatimu kuat-kuat, kau dapat memberikan banyak kebebasan pada jiwamu: itulah yang kukatakan, pada suatu hari. Akan tetapi, orang-orang tidak percaya, kecuali saat mereka benar-benar menemukannya.

9. Apakah ada orang yang kadang tidak mempertahankan reputasi baiknya dengan mengorbankan — dirinya sendiri?

10. Malu pada amoralitas kita: inilah satu langkah di tangga yang mengarah menuju rasa malu pada moralitas kita.

11. Sesuai dengan diri kita, kita semua pura-pura lebih sederhana dari yang sebenarnya: inilah cara di mana kita dapat bersantai dari orang lain.

12. Bahaya dalam kebahagian. – ‘ segala sesuatu menjadi benar bagiku sekarang, mulai sekarang aku akan mencintai semua perubahan takdir—siapa yang ingin menjadi takdirku? (Kecuali kalimat terakhir, poin ini mirip ucapan Umar Bin Khattab ra., “Aku tidak peduli atas keadaan susah dan senangku, karena aku tak tau manakah di antara keduanya yang lebih baik bagiku”. Sepertinya, kita memang harus menghadapi segala sesuatu dengan biasa saja. Toh, yang membedakan kejadian menjadi baik atau buruk hanyalah persepsi kita. Acceptance is one of the ‘beyond good and evil’.)

13. Sekali kau berketetapan hati untuk menutup telinga bahkan pada kontra-argumentasi terbaik, maka itu menunjukkan bahwa kau memiliki karakter yang kuat. dan kadang juga kehendak menuju kebodohan. (Dengan konservatif, kamu mengubah dirimu menjadi pribadi teguh sekaligus kolot. Kadang-kadang moderat itu perlu).

14. Tidak ada yang disebut sebagai fenomena moral, yang ada hanya interpretasi moral atas fenomena.

15. Saat cinta atau pun kebencian tidak berperan, tindakan perempuan akan biasa-biasa saja. (Nietzsche punya kecenderungan sok tau tentang perempuan).

16. Sensualitas seringkali mendorong pertumbuhan cinta terlalu cepat, sehingga akarnya tetap lemah dan mudah tercabut. (Aku kira hanya binatang yang saling mencintai karena dorongan sensualitas. Hampir lupa, manusia adalah binatang yang berpikir. Tipis sekali ya).

17. Semua perempuan yang baik menemukan bahwa ilmu pengetahuan adalah bertentangan adalah bertentang dengan kesopanan mereka. ia membuat mereka merasa seakan-akan ada orang yang ingin melihat di balik kulit mereka—atau yang lebih parah! Di balik pakaian dan kosmetik mereka. (Iyakah?)

18. Seseorang yang tidak mengetahui cara menemukan jalan menuju cita-citanya akan menjalani hidup dengan lebih sembrono dan kurang ajar dibandingkan dengan orang yang tidak punya cita-cita.

19. Dalam menghadapi kaum terdidik dan seniman, kita dengan mudah dapat salah dalam memperhitungkan kebalikan: seringkali kita menemukan orang biasa di balik penampilan seorang terdidik yang luar biasa, dan pada kenyataannya kita juga sering menemukan seseorang yang luar biasa di balik penampilan yang biasa.

20. Dalam balas dendam dan cinta, perempuan lebih barbar dibandingkan laki-laki. (Well, ini bukti bahwa laki-laki paling barbar dalam menilai perempuan. Saya perempuan, bahkan tidak pernah sekecil upil pun berniat barbar dalam mencintai seseorang. Barbar adalah urusan subjek dengan objek. Pihak ketiga menonton saja sambil makan jambu!)

21. Dalam membandingkan perempuan dan laki-laki secara umum, kau mungkin berkata bahwa perempuan tidak akan memperoleh kegeniusan sebagai dandanan mereka jika mereka tidak memiliki insting tentang peran pendukung. (peran pendukung  perlu untuk meneguhkan posisi. Itu saja, tidak lebih).

22. Apa yang dalam suatu zaman dilihat sebagai yang jahat biasanya merupakan gema dari sesuatu yang dulunya pernah dilihat sebagai yang baik—atavisme dari cita-cita lama. (Jangan bilang kalau zaman jahiliyah juga bagian dari atavisme. Kiamat sudah dekat)

23. Di sekeliling seorang pahlawan, segala sesuatu menjadi tragedy, di sekililing manusia setengah dewa segala sesuatu menjadi drama satir, dan di sekeliling Tuhan segala sesuatu menjad apa menurutmu? Mungkin ‘dunia’? (Ini favorit saya banget)

24. Cinta mengungkapkan kualitas-kualitas besar dan tersembunyi dari pencintanya—apa yang langka dan merupakan perkecualian dari dirinya: dalam artian bahwa cinta menyembunyikan apa yang biasa-biasa saja. (Itulah kenapa ada orang yang jatuh cinta tanpa pernah bangun. Konyol, sedih, dan herannya masuk akal).

25. Memuji lebih mengganggu dibandingkan menyalahkan. (Ya Allah lindungi saya dari quote ini).

26. Nasehat aneh!. Agar suatu ikatan tetap kuat, pertama-tama gigitlah terlebih dahulu. (Saya tidak tahu apa yang Nietzsche pikirkan saat menulis ini, tapi baiklah, Nasehat aneh).

27. Mendekatnya seseorang yang lebih tinggi adalah menyakitkan karena ia tidak dapat dibalas.

28. ‘Apa yang mengejutkan bukanlah karena kau berbohong padaku, tapi karena aku tidak lagi percaya padamu’.

Sekian epigram dan selingan dari Nietzsche, tolong tidak usah diambil hati.



Minggu, 16 Agustus 2015

Surat Tentang Seabsurd-absurdnya Ekspresi



Assalamualaikum, pa, apa kabar? Semoga engkau dalam keadaan terbaik dari yang bisa kubayangkan. Sudah lama sekali aku tidak menulis surat untukmu, aku bahkan tidak menulis paragraf-paragraf selamat untuk hari ulang tahunmu dan hari-hari yang tampak penting padahal tidak. Ah, maaf, belakangan ini aku terkungkung dalam—katakanlah perasaan terlena pada waktu—sehingga tak banyak berkabar lagi. Tapi bukan berarti aku lupa. Tak pernah sehari pun kosa kata itu mengambil alih peranmu dalam hidupku, karena lupa sudah kuletakkan sebagai kasus durhaka dalam taraf tertentu.

Ngomong-ngomong, sebentar lagi dua tahun kita menjadi keluarga yang hidup dalam dimensi berbeda. Tak apa, sekarang engkau sudah tidak sakit lagi, dan aku pun sudah lebih baik karena tidak melihatmu dalam keadaan sakit. Aku pernah bilang kan, jika kita menyayangi seseorang, maka empati kita akan dua kali lipat lebih menyedihkan. Setidaknya, papa sudah terlepas dari parahnya kamuflase persepsi dalam kehidupan ini. Aku jadi ingin bertanya, apakah benar yang dimiliki manusia hanya jiwa? Baru-baru ini aku membaca sebuah blog yang penulisnya bernama Harun Yahya (secara subjektif aku menjadi tertarik karena nama Yahya di belakangnya), menyatakan bahwa materi itu ilusi, dan segala sesuatu berada dalam kungkungan persepsi. Blog itu, sedikit lagi menjawab semua pertanyaanku tentangNya, dengan penjelasan ilmiah sederhana yang membuatku malu sudah lancang bertanya-tanya. Aku ingin sekali mendengar pendapat dari sudut pandangmu, tapi, ya sudahlah itu kita bicarakan nanti saja.

Kali ini, aku ingin sedikit protes kenapa papa jarang datang ke mimpiku! Meskipun masih takut gelap, aku bukan lagi gadis kecilmu yang takut hantu dan selalu tidur membawa Juz Amma (dulu aku memiliki semacam kepercayaan bahwa orang yang meninggal akan berubah menjadi hantu, pocong misalnya). Jadi kalau mau datang, datanglah saja, dan apapun bentuknya engkau adalah ayahku. Ayah nomor satu. Lagi pula persepsi hantu-hantuan itu sudah lama kuhapuskan, karena berimplikasi bahwa kelak aku akan jadi hantu juga. Fatally creepy, naudzubillah!

Mungkin alasan engkau tidak sudi datang ke mimpiku adalah ibadahku yang memburuk akhir-akhir ini. Iya pa, aku juga menyesal dan merasa munafik untuk itu. Tapi semoga masih ada kesempatan memperbaiki.

Sebenarnya, selain kangen, ada alasan lain aku membuat surat padamu. Seperti biasa, aku ingin menanyakan sesuatu, (ck, bagian ini masih menyedihkan karena komunikasi kita serasa benar-benar putus). Aku ingin bertanya, kenapakah seseorang harus mendiamkan orang lain tanpa alasan yang ybs ketahui? Hal paling sulit dimengerti selain trigonometri dan kawan-kawannya yang seperti alien itu, adalah kenapa proses ‘mendiamkan’ harus ada dalam kamus pertemanan? Kenapa? Kenapaaa?
Diam itu ambigu, menjengkelkan dan absurd Masya Allah. Itulah sebabnya aku lebih takut pada marahmu ketimbang ibu. Sebagai wanita normal, ibu akan merepet satu juz jika marah, tapi setelahnya sudah. Selesai tanpa sisa. Dan aku jadi tahu apa yang membuatnya marah sehingga menjelma Qariah bersuara indah. Berbeda dengan engkau, marahmu diam, hanya diam dengan tatapan maut—jika saja tatapan bisa membunuh, niscaya aku tamat saat itu juga. Ini semua, proses diam dan tatap-menatap yang mengerikan itu, sungguh membuatku kalang kabut. Aku seperti digiring pada fait accompli yang membuatku jadi tersangka tanpa pengacara. Program minta maaf yang diselimuti oleh rasa segan tersebut harus kuhadapi sendirian. Macam kambing hitam yang menawarkan diri untuk dibantai. Rasa-rasanya aku kuat dimarahi macam apapun—kata-kata kasar dan kekerasan tidak termasuk—asal jangan diam.

Parahnya, orang yang marah dalam diam bukan hanya engkau saja, Pa. Salah seorang temanku suka tiba-tiba mendiamkan, bahkan ketika baik-baik saja pada awalnya. Aku nggak ngerti, dan derajat nggak ngerti ini bergerak menuju seratus persen. Bahkan dalam ketidakmengertian ini aku berusaha mengiriminya sms permohonan maaf. Kau tahu pa, minta maaf adalah program yang berat seperti menguliti harga diri. Tapi kulakukan juga. Semua demi waktu keramat, bahwa sesama muslim tidak diperkenankan berselisih lebih dari tiga hari. Ini sudah menjelang dua hari, maghrib nanti waktuku habis telak. Dan engkau perlu tahu, hal menyedihkan nomor satu dari perang dingin ini adalah smsku tidak dibalas, tapi dia update bbm dan melakukan aktivitas sosmed lainnya.

Oh Allah, kuharap engkau mengerti niat hamba mengantarkan maaf. Perkara diterima atau tidak, menjadi urusan dia dan Engkau semata. Tapi tinggal serumah dalam keadaan diam rasanya sedikit mengganggu ketentraman.

Pa, coba jelaskan padaku trik untuk mengatasi jenis marah seperti ini. Jujur, aku lebih bahagia menjadi pihak yang disakiti, daripada merasa bersalah—merasa loh ya, aku bahkan tak tahu apa salahku. Aku kembali pada posisi didiamkan yang tidak enak. Kejadian-kejadian semacam ini menciptakan keyakinan bahwa jika pada waktunya aku berkomitmen nanti, harus ada sejenis pakta dengan pihak kedua, agar tidak ada rahasia di antara kita. Marahlah kalau mau marah, mau memuji tinggal bilang, mau pisah? Silakan kalau alasannya jelas dan bisa diterima. Segala sesuatu yang pada tempatnya adalah hak, dan sebagai orang yang nilai semiotikanya B, aku benci aktivitas perkodean yang tidak konvensional!

Pada dasarnya diam itu menimbulkan prasangka. Dan aku tidak suka berlarut-larut dalam prasangka yang membunuh logika. Memang ada benarnya pepatah yang berkata, “quiet people have the loudest minds”. Tapi si pepatah yang terhormat itu pasti belajar dari tokoh macam Edward Cullen, Aro, Sherlock Holmes, Morpheus, Kaname Kuran, atau Si Buta dari Gua Hantu. Lantas dari mana aku harus mendapatkan ilmu itu, dan hey, they don’t even exist!

Pa, nanti kalau kita bertemu di kehidupan selanjutnya (semoga itu surga), jangan pernah marah macam demikian. Aku bukan mind reader, atau dukun berkekuatan supranatural yang memahami orang dalam sekali kedip. Sampai di sini, aku cuma tertolong oleh keyakinan yang berbunyi, “It isn’t my duty to please everybody.” Lagi pula permintaan maafku seperti beterbangan di udara dan nggak ada artinya. Atau mungkin tidak membalas justru sikapnya yang paling jelas. Entahlah, once more, it’s not my duty to please everybody.

Baiklah, pa, kalau kau ingin mendengar tentang istrimu yang militan dan dermawan (minimal padaku) itu, dia baik-baik saja. Semua pada tempatnya, meski ada satu dua hal yang seperti jalan di tempat dan tidak segera bermuara. Tapi nggak apa, asal berjalan dalam tujuan, kita semua akan sampai.

Sampai jumpa pa, dalam mimpi mungkin, semoga Allah selalu menyayangimu sebagai orang yang mengajarkan tentangNya. Selamat HUT RI, merdekalah dalam definisimu di sana. Terima kasih atas segalanya, atas adzan pertama dan dua puluh tahun yang bermakna lebih dari sekadar waktu.

With love,

Intang.