UA-51566014-1 Catatan Harian: Kepingan

Sabtu, 14 September 2013

Kepingan


Waktu kecil, kami berempat pernah berandai-andai menghadiahkan mobil. Tinggal di sisi kanan dan kiri rumah. Membangun keluarga besar yang tak beranjak dari sekitar rumah masa kecil.
Waktu  kecil, dia suka sekali mendongeng. Tentu saja tak gratis. Semua harus berdasarkan seberapa besar alat bayar. Ada yang mengandalkan pencabutan uban, pijat atau mengambilkan minum. Dan dia menerima semua jenis pembayaran yang bergantung pada kemampuan.
Dia suka membantu kami mengerjakan PR. Seperti dia suka menambahkan matematika dalam PR kami. Dia juga guru bahasa inggris dan musik yang baik. Aku bisa membaca not balok sejak SD berkat dia. Aku suka puisi dan novel berkat dia. Orang itu, sangat peduli pada pendidikan kami. Membantu menemukan jati diri dalam sejumlah daftar mata pelajaran.
Kalau ada lomba lucu2an, dia pemenangnya. Kalau ada lomba galak2an, dia juga menang. Multi talent kan? Ya, begitulah dia.
Dia sombong. Selama dua puluh tahun menjadi anaknya, aku jarang sekali dipuji. Bagaikan anak adalah beban pemberat. Tapi tanpa dia aku tak akan pernah jatuh cinta pada sastra. Takkan pernah menjuarai lomba. Dan takkan sampai sejauh ini.
Aku tahu sebenarnya belum sampai ke mana-mana. Dia bilang juga begitu.
Belakangan ini, aku baru tahu bahwa ada yang merencanakan aku menjadi the next ‘dia’. Dan orang itu adalah dia sendiri.
Belakangan ini, aku juga tahu dari bibi, dia sering menyebut namaku dengan bangga. Sesuatu yang tak pernah ditunjukkan selama dua puluh tahun terakhir.
Selama ini dia pelit. Tapi ternyata sekadar perhitungan. Karena terlalu terbiasa dengan matematika.
Selama ini dia galak dan suka membodoh2i. Tapi ternyata justru caranya menyemangati.
Salama ini aku terlalu egois untuk menjadi apa yang kuinginkan. Tanpa mengindahkan sarannya.
Dan setelah waktu menutup semua kesempatan, aku baru sadar bahwa aku mencintainya. Mencintainya seperti udara. Sehingga saat kehilangan, dada ini sesak sekali. Takkan ada lagi manusia seperti dia dalam sisa hidupku. Singkatnya, kami takkan bertemu lagi. Sebesar apapun aku merindukannya, tak ada hari yang mau mempertemukan. Kecuali Tuhan berbaik hati memberiku mimpi. Dan mungkin di akhirat nanti.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar