Blog Ini Sepenuhnya Omong Kosong dan Curhatan Pribadi. Jadi jangan Buang Waktu Anda. Salam Para pejuang!
Jumat, 28 Juni 2013
Rabu, 19 Juni 2013
Meta Kata: LOMBA MENULIS PUISI "MERINDU RAMADAN"
Meta Kata: LOMBA MENULIS PUISI "MERINDU RAMADAN": Support Buku Terbit UCAP #1 Buku Terbit UCAP #2 Setelah sukses menyelenggarakan lomba menulis PUISI dan PROSA LIRIS "UCAP&qu...
Pukul 20.30 lebih. Selepas baca filsafat klasik. Hanya pengantar
sih, tidak tebal.
Meski sudah berungkali mendengar kata filsafat, baru setelah kuliah
aku mendapatkanya. Semester 3, mata kuliah yang diampu bu Sri Wilujeng itu
benar-benar mengasikkan. Penuh teka-teki yang dekat dengan kehidupan namun tak
terbaca pikiran. Bagiku filsafat tidak sekadar beban nilai 2 SKS, tetapi lebih
mengarah ke diskusi yang menyegarkan pikiran dan mendewasakan pemahaman. Tentu
saja aku menyukai makul tersebut bukan karena dosennya. Tetapi lantaran itu filsafat
dan aku seorang mahasiswi yang baru menyentuh kulit luarnya. Toh kelas-kelas
yang diberikan cuma pengantar, bahkan tidak memenuhi standar untuk dinamai
“Dasar-dasar Filsafat”.
Awalnya filsafat seperti bongkahan berlian yang aku tak tau harus
mulai mengasahnya dari mana. Akar suatu pengetahuan yang mempernyatakan
pengetahuan itu sendiri. Kenapa ia bisa ada, sebesar apa tingkat keabsahannya
dan bagaimana dia bisa bermanfaat bagi manusia. Hmm. . . sebenarnya bukan tentang
pengetahuan saja, tetapi semua. Apapun yang ada di dunia ini merupakan objek
kajian filsafat. Bahkan dengan lancang dia mengeja keberadaan T-U-H-A-N. Atau
juga tentang dirimu sendiri, seperti apakah nous[1]
yang membuat seseorang mampu mempertanyakan asal muasalnya.
Bagi yang dari jurusan eksak, jangan terlalu sombong bahwa filsafat
adalah bidangnya orang melamun. Justru karena melamun, filsafat patut dijuluki
bidangnya orang berpikir. Akar dari segala ilmu pengetahuan yang membuat
peminatnya merasa bagai debu di alam semesta. Barangkali kau perlu tau, bahwa
Phytagoras yang suhunya matematika adalah filsuf pada masa klasik. Logika,
silogisme dan metafisika merupakan garapan Aristoteles yang juga seorang
filsuf.
Karena filsafat adalah akar, maka ia memiliki banyak sekali batang
ilmu yang melahirkan cabang pengetahuan. 5 batang paling terkenal dalam
filsafat yakni: logika (berkaitan dengan benar-salah), etika (tentang
baik-buruk), estetika (keindahan), metafisika (tentang hakikat keberadaan), dan
ontology (filsafat ilmu). Namun tenang saja, 5 batang itu bukan apa-apa. Masih
ada begitu banyak cabang yang bersiap memusingkan kepala pengkajinya. Aku
sendiri secara spesifik tertarik pada cabang metafisika yaitu antropologi yang
membahas tentang filsafat manusia (dalam prespektif mindsetnya).
Berkat keluasan filsafat sebagai ilmu, aku bingung harus memulai
darimana. Sebagai mata kuliah, tentu saja filsafat dibahas dari sejarah
perkembangannya. Tetapi aku merasa langkah tersebut hanya akan berujung pada
teori-teori yang dilupakan. Aliran-aliran dari tokoh yang jumlahnya tak
terthitung jari itu akan membuat ngantuk sebelum seseorang berhasil mencerna
satu persatu.
Suatu siang aku ke perpustakaan untuk meminjam buku yang menunjang
tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Modern. Kuliah satu itu rupanya juga tak
terlalu jauh dari filsafat, hanya lebih ke arah perkembangan pemikiran para
tokoh. Tiba di rak berlabel filsafat, aku mengambil buku Pengantar Filsafat
karangan Ali Maksum. Secara isi, buku ini menarik dan mudah dipahami seorang
pemula. Bahasanya sederhana serta membuat orang penasaran berkelanjutan. Aku
membacanya dari halaman awal (kata pengantar tidak termasuk), cara Ali Maksum
menjabarkan filsafat dari segi tokoh lebih mirip pendongeng. Perjalanannya jadi
mengalir, bahkan aku merasa sedang membaca fiksi. Inilah yang pada akhirnya
membuatku ingin mengenal filsafat dari para tokohnya. Karena saat membicarakan
tokoh, otomatis sebuah tulisan akan mengaitkan dengan pandangan dan karya pula.
Jadi lebih mudah dimengerti dan bisa menjadi bekal untuk mempelajari
aliran-aliran filsafat.
Kembali ke kalimat awal, selepas membaca filsafat klasik aku jadi
memahami apa yang dulu didapat secara acak. Salah satunya milik Rene Descartes,
“Aku berpikir maka aku ada[2].”
Jauh sebelum filsafat itu ada, Parmenides, seorang tokoh filsafat klasik yang
terpengaruh tradisi miletus telah mengusung filsafat “ada”. Dia berkata, yang
ada sudah pasti ada dan yang tidak ada juga pasti tidak ada. Ambil contoh
terdekat, Tuhan. Dia pasti ada, karena manusia memikirkannya. Mana mungkin
manusia mampu memikirkan sesuatu yang tidak pernah ada. Kenyataanya kita ada,
pasti yang menciptakan kita lebih ada dan lebih segala-galanya. Maka sebagai
makhluk, kita memiliki keterbatasan untuk mengadakannya secara nyata. Nah, dari
filsafat Parmenides, aku jadi berpikir tentang pendapat Rene Descartes.
Barangkali relevan kalau kita
disambungkan. Aku berpikir maka aku ada.
Terkadang kita sendiri menjalani hidup tanpa berusaha memahami eksistensi
sebagai salah satu entitas di alam semesta. Ketika berpikir tentang keberadaan,
pada saat itulah kita sebenarnya benar-benar ada. Pikiran kita yang membawa
pada keberadaan sesungguhnya. Yang pada akhirnya akan dijadikan alat memperluas
eksistensi dengan kaidah fungsi yang mengikuti penciptaan. Gara-gara baca
kalimat Parmenides, aku merasa bego karena pernah menganggap filsafat Descartes
hanya sebatas pemikiran sebagai manusia normal yang mengabaikan manfaat di
tengah komunitas. Aku pikir yang dimaksud Descartes, keberadaan manusia
terhenti pada cara diri berpikir. Bahwa jika memikirkan keberadaan berarti dia
telah benar-benar ada. Bodoh!
Selain Parmenides, masih ada tiga maha guru yang mencerahkan
pemahaman: Socrates, Plato dan Aristoteles. Ketiga manusia itu menghadiahkan
pemikiran-pemikiran luar biasa bagi bangsa Barat. Meski Socrates justru
berakhir karena pandangan yang dianggap menyimpang, dan Aristoteles terpaksa
melarikan diri berkali-kali. Namun hal-hal demikian sama sekali bukan rajam
yang menghentikan keberterimaan ilmu mereka pada akhirnya. Tuhan, terimakasih
telah menghadirkan mereka yang menambah daftar ilmuwan untuk dihapalkan.
Rabbku, kau juga yang pasti merefleksikan idea mereka dalam bentuk jasmani :)
Ide-idea-idealisme (Platonian)
Rabu, 12 Juni 2013
Apa aja
Dibilang mengeluh, kurasa bukan.
Aku hanya mencoba manusiawi dengan menuliskan beberapa hal yang memberatkan hari-hari.
Lagipula ini satu-satunya setelah Tuhan, di mana aku bisa memaki sepuasnya tanpa terbaca mereka.
Karena aku tak memiliki siapapun selainNya. Yang mampu mendengar dan merasakan penat dari sudut pandang sama.
Mungkin anomaliku juga yang tak pernah nyaman untuk terlalu dekat dengan siapapun. Aku manusia belakang panggung yang mencoba tersenyum lewat kemarahan tak kasat mata. Bahkan seseorang yang sempat kusebali berkata, "Kamu isi ulang sabar di mana sih nis?". Dengan ringan dan tanpa dosa seolah kita baik-baik saja. Aku cuma menyeringai sederhana. Kau pikir aku tidak kenal namanya muak! kau juga salah satu dari beragam jenis kemuakan itu.
Kehidupan ini membingungkan. Saat kau begitu menginginkan sesuatu, dia seperti kutub searah yang menjauh dan menolak kehadiranmu. Lalu ketika kau berusaha mengacuhkan sambil tak peduli, dia datang bersama pasukan yang diam-diam membawa pergi keakuanmu. Aneh. Mungkin itu yang tengah terjadi dalam kenisbian hidupku. Bagaimana bisa kau secara drastis jatuh cinta pada apa yang dulu dibenci, sekaligus tenggelam tanpa seorangpun berniat menarikmu keluar. Aku terbenam dalam volume air tak terkira, tentu saja sesak. Namun di balik kesesakan itu ada kesenangan yang memaksa "stuck" agar tak beranjak, apalagi kembali pada daratan yang dulu memberikan segalanya. Perasaan macam apa ini?
Sesak itu demikian kronologinya:
Dulu, kau datang ke suatu tempat yang menurutmu dapat memenuhi ekspektasi akan mimpi-mimpi. Pertama senang sekali rasanya. Semua ada, mulai dari kau memvokalkan "a" hingga mampu menjadikan "a" sebagai paradigma yang menyusun pendapatmu terhadap hidup dalam sebuah tulisan. Banyak sekali hal yang membuat seseorang tak bisa lurus-lurus saja. Kemudian kau menengok terlalu lama, terpesona lalu tak sanggup menarik diri. Tanggung jawab terlanjur merangkul pundak tanpa bisa dilepas. Bahkan ketika kau membenci manusia-manusia di dalamnya, tetap tak ingin meninggalkan begitu saja. Karena sesal benar-benar siap menyongsong sewaktu memulai proses apatis. Tali telah mengikat, sekat sudah menjerat, meski ia berdiri antara putih atau hitam samasekali. "Piye perasaanmu?"
Kau terjebak dalam cinta segitiga. Antara Kuliah, Organisasi dan Diri Sendiri. Tiga hal tentang kita yang selalu membuatu kita bertanya "mengapa?"
Alam. . .
Manusia. . .
Tuhan. . . . . .
Sama kan? Tiga unsur yang bisa simbiosis mutualisme dalam equilibrium kehidupan.
Aku hanya mencoba manusiawi dengan menuliskan beberapa hal yang memberatkan hari-hari.
Lagipula ini satu-satunya setelah Tuhan, di mana aku bisa memaki sepuasnya tanpa terbaca mereka.
Karena aku tak memiliki siapapun selainNya. Yang mampu mendengar dan merasakan penat dari sudut pandang sama.
Mungkin anomaliku juga yang tak pernah nyaman untuk terlalu dekat dengan siapapun. Aku manusia belakang panggung yang mencoba tersenyum lewat kemarahan tak kasat mata. Bahkan seseorang yang sempat kusebali berkata, "Kamu isi ulang sabar di mana sih nis?". Dengan ringan dan tanpa dosa seolah kita baik-baik saja. Aku cuma menyeringai sederhana. Kau pikir aku tidak kenal namanya muak! kau juga salah satu dari beragam jenis kemuakan itu.
Kehidupan ini membingungkan. Saat kau begitu menginginkan sesuatu, dia seperti kutub searah yang menjauh dan menolak kehadiranmu. Lalu ketika kau berusaha mengacuhkan sambil tak peduli, dia datang bersama pasukan yang diam-diam membawa pergi keakuanmu. Aneh. Mungkin itu yang tengah terjadi dalam kenisbian hidupku. Bagaimana bisa kau secara drastis jatuh cinta pada apa yang dulu dibenci, sekaligus tenggelam tanpa seorangpun berniat menarikmu keluar. Aku terbenam dalam volume air tak terkira, tentu saja sesak. Namun di balik kesesakan itu ada kesenangan yang memaksa "stuck" agar tak beranjak, apalagi kembali pada daratan yang dulu memberikan segalanya. Perasaan macam apa ini?
Sesak itu demikian kronologinya:
Dulu, kau datang ke suatu tempat yang menurutmu dapat memenuhi ekspektasi akan mimpi-mimpi. Pertama senang sekali rasanya. Semua ada, mulai dari kau memvokalkan "a" hingga mampu menjadikan "a" sebagai paradigma yang menyusun pendapatmu terhadap hidup dalam sebuah tulisan. Banyak sekali hal yang membuat seseorang tak bisa lurus-lurus saja. Kemudian kau menengok terlalu lama, terpesona lalu tak sanggup menarik diri. Tanggung jawab terlanjur merangkul pundak tanpa bisa dilepas. Bahkan ketika kau membenci manusia-manusia di dalamnya, tetap tak ingin meninggalkan begitu saja. Karena sesal benar-benar siap menyongsong sewaktu memulai proses apatis. Tali telah mengikat, sekat sudah menjerat, meski ia berdiri antara putih atau hitam samasekali. "Piye perasaanmu?"
Kau terjebak dalam cinta segitiga. Antara Kuliah, Organisasi dan Diri Sendiri. Tiga hal tentang kita yang selalu membuatu kita bertanya "mengapa?"
Alam. . .
Manusia. . .
Tuhan. . . . . .
Sama kan? Tiga unsur yang bisa simbiosis mutualisme dalam equilibrium kehidupan.
Senin, 03 Juni 2013
Narasi Tengah Malam
Ternyata lelah belajar menjadi orang lain. Berusaha tersenyum lalu
tertawa seperti manusia sakit jiwa. Ada begitu banyak sisi yang pada akhirnya
ditinggal, terbengkalai saat kita mencoba berdamai dengan kemuakan pribadi. Kau
akan tau rasanya ketika memasuki dunia yang tak terbayangkan proyektor otakmu.
Tak sederhana. . .
Segalanya berbanding terbalik dengan pandanganmu dulu. Memposisikan
diri sebagai orang lain memang sebuah persoalan. Tertatih dalam beban yang
berduyun-duyun datang. Sementara kita tak tau pasti derajat kekuatan untuk
mengatasi. Semua begitu nisbi dalam kedangkalan seorang pemula. Adakah istilah
bagi kebosanan yang menderu lebih seru dari kerelatifan waktu. Dalam keletihan
yang jadi bagian terminology sukses, kau ingin berhenti mempertanyakan jati
diri. Bertanya kenapa. . . ?
Sampai kapan. . .
Mungkin kita sedang kulminasi. Menekuri kebodohan sendiri dalam
piringan sunyi. Membaca antologi kesal yang dimiliki tiap individu. Bolak-balikan
halaman demi mencari pembenaran, berharap menemukan kelayakan sebuah keluhan. Namun
sia-sia, percuma membenarkan yang sudah terlalu salah. Toh semua punya masalah.
Hanya kita yang terlalu membesar-besarkan kekosongan. Pernahkah kau berpikir
untuk mati saja?
Pernah. . .
Saat gaung tak lagi menempati ruang yang kita huni. Kesedihan jadi
abstrak di mata orang, bahkan menuju ke arah klise. Tapi kau tidak merasa
demikian. Hatimu sudah berkeping-keping dalam keutuhan. Mengeja hampa tanpa
memahami bilangan waktu. Semakin tertinggal dalam detik-detik introspeksi.
Jika segala sesuatu harus disertai alasan. Maka rasa malas takkan
pernah berterima. Terlalu picik bagi individu yang ingin maju. Jalani sajalahJ
Selasa, 09 April 2013
Untuk Kau yang Tak Perlu Kusebut Namanya
Semarang,
9 April 2013
Untuk Kau yang Tak Perlu Kusebut Namanya
Semua yang kita alami, masing-masing begitu rumit dan melelahkan.
Seolah tak ada lagi jeda untuk saling menyapa, mengenang kembali, sekalipun itu
bukan sesuatu yang layak bagi sebuah memori. Kita larut dalam targetan diri
yang entah. Bergulat dengan bayang kosong yang bermuara pada hedonisme semata.
Kau menjadi sangat kiri sekarang, sedangkan aku tetap dalam
kekangan kanan. Persamaan kita hanyalah tentang ketidaktahuan meski keduanya
tak berkaitan. Tapi aku merasa kau adalah benang merah bagi tempat absurd dari
yang paling absurd. Tak peduli apa dan bagaimana.
Aku tidak sedang membicarakan kita dalam sudut pandang suatu masa.
Biarlah semua berjalan seperti seharusnya tanpa campur tangan persona. Tak ada
yang perlu terganggu oleh kegelisahan pada waktu. Luruslah, aku selalu di garis
jejakmu. Bila kau mau, tak usah ada kata untuk bertanya.
Lekaslah lekas, kenapa kau tak juga bersua dengan karsa. Sesuatu
yang telah dikuasai kehendak harusnya tak boleh “stuck”. Semua akan menjadi
mudah pada saatNya. Kau hanya butuh bergerak cepat tanpa menikung keselarasan.
Cepat keluar dari zona nyaman! Tempat itu terlalu sederhana untuk manusia luar
biasa.
Selasa, 19 Maret 2013
Aku Tidak Memahamimu
Aku Tidak Memahamimu, Descartes
“Aku berpikir maka aku ada”.
Mahasiswa mana yang tidak kenal pernyataan di atas. Setiap yang
pernah menjalani kuliah filsafat pasti mengenalnya, meski tidak semua memahami.
Rene Descartes, salah satu pentolan aliran eksistensialisme sangat
menganggap bahwa tingkat keberadaan suatu entitas didasarkan pada bagaimana ia
berpikir. Tak terkecuali manusia yang secara harfiah telah dikarunia kemampuan
berpikir. Dari pikiran tersebut lahirlah dunia baru yang herannya semakin hari
semakin carut marut. Sebegitu istimewakah pikiran manusia?
Diakui atau tidak, manusia memang makhluk luar biasa. Dia selalu
berkembang ke arah yang (seharusnya) lebih baik. Memiliki tujuan yang terkadang
berkausalitas dengan peng-halal-an segala cara.
Lalu apa hubungannya dengan eksistensialisme Rene Descartes?
Entah kenapa sampai sekarang saya kurang setuju dengan pemikiran
tersebut. Mungkin lebih tepatnya belum memahami. Tentu saja Descartes yang
seorang filsuf telah mempertimbangkan berbagai hal untuk mengeluarkan
sabda tersebut. Dan saya yakin filsafatnya telah melalui proses
kontemplasi yang dalam. Tetapi benarkah eksistensi suatu organisme hanya berdasarkan
pada “berpikir” semata? Sedangkan kita tau bahwa di bumi (sempit) ini yang
tinggal bukan hanya manusia. Atau filsafat itu memang berlaku bagi manusia
saja? Lalu bagaimana nasib manusia yang pikirannya bergantung pada konotasi
tertentu?
Selalu hadir begitu banyak pertanyaan jika kita membicarakan
filsafat. Karena begitulah sifat filsafat, diawali dengan pertanyaan yang pada
akhirnya bercabang pada pertanyaan lain.
Hal pertama yang membuat saya kurang simpati terhadap filsafat Descartes
adalah kenapa eksistentsi seseorang hanya didasarkan pada “berpikir”. Padahal thinking
without acting is just nothing. Apa gunanya berpikir jika perkembangan dunia
masih “stuck” di tempat. Peradaban tidak akan berubah hanya dengan
mengandalkan pikiran. Toh anak SD juga “berpikir” bagaimana cara mendapatkan
nilai tinggi tanpa susah payah belajar. Bahkan terkadang beberapa mahasiswa
tingkat akhir justru dianggap menghilang lantaran sibuk mengurung diri di kamar
sambil “memikirkan” skripsi. Lalu bagaimana “eksistensi” yang dimaksud Descartes.
Dunia ini butuh orang yang bergerak.
Kedua, jika benar eksistensi invidu didasarkan pada cara berpikir
bagaimana nasib orang-orang cacat. Mereka tidak secara otomatis hilang dari
pandangan dan tetap dianggap ada. Mereka juga manusia yang tetap mewarnai dunia
dengan berbagai macam “keanehan” mindset.
Apakah hanya dengan “berpikir”
maka otomatis seseorang dianggap ada. Semudah/serumit itukah?
Langganan:
Postingan (Atom)
