UA-51566014-1 Catatan Harian

Senin, 02 Februari 2015

Surat Untuk 17 Bulan Tepat

Selamat malam ayah nomer satu di dunia. . .

Apa kabarmu di sana? Di tempat yang serupa tera incognito dalam kepalaku. Hanya serupa, ya, bagaimana pun serupa tak memiliki padanan yang cukup membahasakan sesuatu. Maka, serupa itulah yang membuat rindu ini tak terjelaskan. Hanya rindu. Tanpa rupa, tanpa warna.

Hari ini tepat 17 bulan kita tak bertemu. Rasanya lama sekali, lama yang tak terkira.. seperti bertahun-tahun dan kenangan terus menjadi larat bersama waktu yang menyeret ke masa-masa di depan. Hari ini, hari biasa ketika aku merindukanmu, rindu gigantis yang memaksaku menulis sebuah surat. Lagi dan lagi, surat yang tak pernah sampai padamu. Bahwa yang kulakukan ini tak ubahnya ngobrol dengan batu, tak menghasilkan apa-apa selain aktivitas yang tak jauh beda dengan gila. Tapi sudahlah, aku memang berniat terus melakukannya. Menulis surat rindu yang terlalu bertepuk sebelah tangan. Surat yang memang harus kutuliskan, atau tidak aku akan gila betulan.

17 bulan waktu yang sangat lama. Aku melewatkan banyak peristiwa yang takkan pernah sampai kepadamu sebagai cerita. Padahal di antara 17 bulan itu ada beberapa hal yang seharusnya bisa membuatmu tersenyum. Eh salah, kau tak pernah melakukan itu, di depanku kau hanya akan berkelakar seolah itu hal yang sangat biasa. Remeh temeh yang nyaris tanpa harga. Yang hebatnya, kelakarmu pun tak membuat tersinggung sama sekali. Justru seperti pegas yang melentingkan objeknya untuk melompat mencapai sasaran. Aku sedih karena kau takkan seperti itu lagi.

Ada begitu banyak hal sebenarnya. Saking banyaknya, cerita seperti ikan tanpa air yang melompat-lompat. Untuk menghentikannya, eksekusi saja. Tapi pertama-tama, hal yang perlu kulakukan adalah mengubah sapaanmu menjadi pa. Karena menggunakan ‘ayah’ dan ‘mu’ merupakan hal yang tidak kita. Aku pikir bapa akan tertawa sendiri saat membaca sapaan yang mirip aristokrat kurang kerjaan, ‘ayah’ istilah dari belantara mana itu?

Pa, kehidupan memang berjalan baik-baik saja. Tapi sepi jadinya, rumah yang tanpa suara dan canda-tawa tercerabut habis, menjadi keseriusan yang semakin miris saat dibercandakan. Bapa harusnya tau, ibu dan aku adalah orang-orang nyaris kaku yang membutuhkan orang sepertimu, pembercanda nomer satu yang bisa mengubah luka sebagai ladang tawa. Dalam hal ini, aku pikir Gita agak mirip denganmu, sayang hanya dalam taraf ‘agak’ sehingga tak sepenuhnya terganti. Takkan pernah. Makanya aku tak suka pulang, dan buat apa? Bersama ibu, kami hanyalah dua orang yang bertangis-tangisan saat mengenangmu. Dan itu tidak lucu, sama sekali tak lucu, jika mengingat kejenakaan yang entah kenapa bijak juga, tapi dengan suasana mengharu biru. Mata berkaca-kaca dan ujung-ujungnya kangen yang obatnya cuma doa. Dua orang ini hanya akan menciptakan setting sinetron Indonesia yang penuh air mata, sedikit memalukan memang. Kau pasti takjub melihat kami mengenangmu demikian, pa.

Tapi di atas rasa malasku untuk pulang, rasa malas yang tumbuh bahkan sebelum kau tiada, aku merasa bersalah pada ibu. Aku sayang ibu, tapi sebagian diri ini juga Malin Kundang yang sering tak berniat pulang. Benar bahwa aku merindukan kampung halaman, tapi itu kampung halaman berpuluh tahun lalu. Sebelum Negara api menyerang dan semua elemen berada dalam equilibrium sama rata. Rasa-rasanya yang mengikatku pada tempat itu hanya ibu dan sarehanmu, pa.

Maaf karena aku domba kecil yang selalu terpana pada hijaunya rumput tetangga. Dan tentu saja, hujan emas di negeri orang lebih baik daripada hujan batu di negeri sendiri.

Baiklah, ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Lagi pula masa depan selalu tanda tanya, bisa jadi besok pagi aku terbangun dan jatuh cinta lagi sama Pesarean. Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Prettt… haha seharusnya memang aku ditendang dari tempat itu. Tempat yang dengan sendirinya malah… ah, sudah. Kenapa aku jadi tak nasionalis begini!

Eh, pa, sekarang aku sedang mendengarkan lagu Ebiet. Musisi favoritmu yang lagunya seperti sajak, stanzanya puitis dan suaranya sejernih elegi patah hati. Seleramu tinggi juga, pa. Tapi maaf, aku menyukai Ebiet bukan karenamu. Karena dia memang layak disukai. Lihat saja, musisi Indonesia manakah yang akan menulis lirik ini:

Gugusan hari-hari indah bersamamu…
Camelia,
Bangkitkan kembali, rinduku mengajakku ke sana
Ingin kuberlari, mengejar seribu bayangmu..
Camelia
Tak peduli kan kuterjang, biarpun harus kutembus
Padang ilalang

Tiba-tiba langkahku terhenti, sejuta tangan tlah menahanku
Ingin kumaki, mereka berkata…
Tak perlu kau berlari, mengejar mimpi yang tak pasti
Hari ini juga mimpi
Maka biarkan. . .
Ia datang… di hatimu

Ah, aku curiga jangan-jangan Ebiet ini tidak makan nasi saking puitisnya. Ia makan kata dan metafora. Aku jatuh cinta semenjak kau sering memutar lagunya pada pagi buta. Semenjak aku masih suka mencabuti ubanmu demi mendengar sepotong dongeng bahkan.

Lagi, Ebiet ini pandai sekali menyanyikan duka. Kau tau pa, dua hari selepas kepergianmu, aku menangis saat memutar Camelia IV. Lagu yang kau nyanyikan beriringkan gitar yang petikannya belum penuh dihapal. Ada lirik yang membuat jangtungku berhenti sejenak.

Kematian hanyalah tidur panjang, maka mimpi indahlah engkau…

Aku ingat dengan tepat, bagian ketika kau menceritakan Ebiet kehilangan Camelia, lalu dia menuliskan lagu berseri tentang puisi dan pelitanya yang telah meninggal itu.
Adakah kau di sana mengingatku? Mengingat dua puluh tahunku, 17 tahun adikku dan bertahun-tahunmu yang memberi begitu banyak makna pada kami.
.
.
.
Pa, aku hanya mau menurut kata Seno Gumira Ajidarma. Bahwa perpisahan sesungguhnya terjadi bila dua orang benar-benar saling melupakan. Dan keberadaan seseorang tidak ditentukan oleh eksistensinya, melainkan oleh sebuah makna dalam sekumparan kenangan.

Terakhir, aku ingin memberitakan, bahwa mulai bulan depan aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang bergelut dengan skripsi. Doakan aku, di horizon manapun kau berada. Bahwa meski bukan feminis, aku tangguh dengan caraku, dengan dua puluh tahun pendewasaan penuh cerita. Ingat dengan cermat, pa, aku akan terus menulis surat padamu. Agar rinduku abadi dalam kata dan doa. Selamat tidur panjang, tetaplah berbahagia dalam ketiadaanmu. Salam sayang.



Selasa, 13 Januari 2015

Episode Skripsi


Perjalanan kuliah seperti bom waktu yang menunggu meledak pada titik ini. Sks, KKN, IPK, semua dikumpulkan demi memasuki sebuah ruang eksekusi bernama skripsi. Seolah-olah ini satu-satunya barometer untuk mengukur kompetensi mahasiswa.

Orang-orang di sekitar mendadak rajin. Seperti ada setan dari perpustakaan yang merasuki mereka. Membuat masing-masing kami terpaksa dan harus menuju perpus. Tempat paling representatif seantero FIB, juga paling berpotensi membikin pengunjung terantuk-antuk dalam kantuk. Di ruang yang seperti gudang buku itu, ada sudut terpencil yang biasa dihuni angkatan tua. Sudut yang hanya ada meja, kontak charger dan lemari-lemari berisi karya ilmiah mahasiswa. Tempat tersebut senantiasa disambangi oleh kepala-kepala yang aku yakin sebenarnya pikiran mereka tak serta merta berada di sana. Dahulu, saya menganggap sudut itu sebagai tempat pesakitan, dengan wajah-wajah merana macam terdakwa yang tak bisa lari dari sidang. Sekarang, saya sendiri mulai tahu rasanya.

Sebenarnya bayang-bayang itu sudah tampak dari lama. Sejak semester 3, saya dan teman-teman mulai dijejali penelitian, baik yang berupa tugas maupun lomba. Dari situ pula saya jadi tahu, penelitian juga bisa dijadikan salah satu jalur bagi mahasiswa untuk mencari uang. Lalu, puncaknya pada semester 5, teknik penulisan ilmiah menjadi pengantar bagi muara bernama skripsi.

Kata senior-senior, skripsi tidak semenakutkan yang kita duga. Saya juga sadar sih, terkadang pikiran para awam jauh lebih mengerikan dari faktanya. Dan memang, sejauh ini yang paling sulit adalah mengejar dosen. Karena kadang-kadang mereka lebih absurd dari angin, ada tapi tak nampak, bisa dirasa tapi sulit dikejar. Semoga itu saja, karena begitu pun sudah cukup memakan waktu. Terlebih skripsi adalah tugas tanpa deadline yang cuma bisa diatasi yang bersangkutan.

Yang meresahkan adalah, perlahan saya mulai sangat realistis. Mulai kehilangan sentuhan fiktif dan semakin jauh dari mimpi menjadi juru dongeng. Segala sesuatunya perlahan memiliki batas, kemungkinan-kemungkinan yang dulu manis berubah menjadi rasa skeptis. Kalau-kalau dunia fiksi akan meninggalkan saya dengan kenyataan yang menyergap.

Bahwa masuk sastra bukanlah jaminan untuk menjadi pendongeng yang berjaya. Dan ternyata lagi, sastra dalam lingkup akademik tetaplah persoalan yang menyita waktu. Bukan berarti saya takut pada skripsi, tetapi, keharusan untuk mengompensasi hobi itulah yang membuat para pengkhayal macam saya semakin jauh menuju jatuh. Jauh dari harapan, jauh dari waktu luang untuk membaca, dan mau tidak mau jauh dari teman-teman maya. Ini seperti masa transisi dari peri dongeng menjadi peri kayangan, atau pengkhayal menuju manusia profesional. Padahal, tanpa novel, tanpa sajak, tanpa dongeng, tanpa fiksi, hidup saya terasa hampa. Karena bagi saya, mereka sudah seperti udara, dan menjauh seperti ini tak pernah menghentikan saya untuk merindu mereka.

Tapi, saya akan mencoba baik-baik saja. Dan memang harus seperti itu. Karena skripsi juga karya bukan? Setelah pernah ada episode memaksakan diri dengan jurnalistik, mungkin ini bukanlah sesuatu yang buruk. Seperti kata dosen seminar, “kamu itu harus belajar mencintai objek. Biar mengerjakan segala sesuatunya dengan gembira dan penuh totalitas.”

Ya, harus berusaha. Dan lagi, saya sudah kangen menuliskan nama bapak dan ibu di prakata. 

Rabu, 07 Januari 2015

Manusia, Tuhan, Alam

Berbagi waktu dengan alam, kau akan tahu siapa dirimu yang sebenarnya… hakikat… manusia…

Lirik lagu di atas seketika melintas di kepala ketika mendaki. Ya, sekarang saya sedikit paham kenapa orang yang sudah pernah naik gunung selalu ingin balik lagi. Ada begitu banyak katarsis dari setapak terjal, dingin yang menggigit dan kadang-kadang matahari yang hangat tapi bersahabat. Alam seperti ibu yang memeluk kaki kecil para pendaki, membiarkan mereka menapak untuk melihat betapa Tuhan itu arsitek yang tak pernah cela. Dan berada di kehijauan yang nyaris menyentuh langit, kau akan berujar pada diri sendiri. . . nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?

Sayangnya, belakangan ini banyak ditemui pendaki yang kurang dewasa. Membuang sampah anorganik sembarangan, lalu menunjukkan eksistensi lewat tulisan-tulisan di batu atau kalap melihat si cantik (bunga2 macam edelweiss, daisy ungu dll) kemudian memborongnya turun tanpa perhitungan. Itukah pecinta alam?

Sejak film tentang alam marak dan naik gunung menjadi ngetrend, mencintai alam membias pada banyak makna. Orang berbondong-bondong naik gunung, mencari spot indah dan memamerkan foto dengan tagline #penaklukan.. hohoho seolah gunung adalah tantangan yang harus dibikin k.o

Padahal, alam bukan gunung saja. Kita sama-sama tau, alam adalah segala yang di langit dan bumi. Baik itu laut, gua, danau, rawa apalagi gunung. Dan pecinta alam, apakah harus selalu berkutat di gunung saja, namun apatis terhadap limbah yang setiap musim menyumbat sungai dan menimbulkan banjir? Saya rasa, eh, kita rasa.. tidak kan?

Jika alam adalah segala yang di langit dan bumi, maka sebagai pecinta, seyogayanya kita tidak boleh pilih kasih bukan? Sesekali, kita perlu juga mendengar ombak yang konon merupakan suara paling merdu di dunia. Sesekali, kita harus belajar mengerti kenapa udara senantiasa memilih tempat tinggi dan banyak pohon. Kemudian berkali-kali, kita harus sadari, alam pun sama sebagai ciptaan Tuhan, memiliki siklus untuk sebuah harmoni. Maka jangan sedih apalagi marah ketika mereka berontak, kita saja belum sepenuhnya memahami limbah yang dibuang setiap hari itu menyakiti atau tidak.

Mencintai alam tidak harus muluk-muluk dengan naik gunung atau kesana – kemari mencari jawab pada rumput yang bergoyang. Kawan, seperti kata pepatah, jika kita tidak bisa membahagiakan orang yang kita cintai, maka setidaknya tidak usah menyakiti. Cukuplah mencintai dengan sederhana, semisal memejamkan mata lalu menghirup udara sejuk dan merasakan angin membelai kita dengan bahasa mereka. Di puncak, sibukkan diri dengan merasakan betapa kecilnya manusia dibanding semesta. Bahwa pemandangan adalah bonus dari nafas yang terpotong-potong saat mendaki, lutut yang gemetar saat menapak dan pundak yang lelah membawa beban. Sungguh alam dan segala estetikanya merupakan hadiah manis dari Tuhan. Mereka selalu berdiri di sana sebagai keindahan. Tanpa kita daki, tanpa diarungi atau disibak oleh pisau-pisau kecil yang jahat.

Cintailah sehebat yang kaubisa. Secara sehat, dengan diam dan merenungi apa yang pernah kita perbuat untuk mereka. Sementara mereka telah memberi tanpa pernah kita hitung. Mari sini, kita singkirkan segala kesombongan. Jika tak mampu berbuat lebih, cukup kantongi dulu setiap sampah yang kaucipta sampai ia menemukan tempatnya. Biarkan semua sampah berakhir di tong sampah. Di mana pun itu. Bahkan jalanan, taman serta ruang kelas juga termasuk bagian dari alam yang rindu dicintai.

Naik gunung, arung jeram, pesiar, bukanlah sejenis prestasi yang patut dibanggakan. Toh, cinta tidak dihitung dari frekuensi seseorang naik gunung atau seberapa sering orang mendayung. Cinta adalah bahasa hati yang tidak bisa diukur oleh kata-kata, ia bisa dirasai dan dimaknai jika sudah maujud dalam bentuk tindakan. Lagi pula seperti kata Soe Hok Gie, patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal objeknya.

Bukankah sebaik-baik cinta adalah yang membawa kita pada kebaikan dan berbuat baik?

Dan di atas itu semua, mari berterimakasih kepada yang menciptakan segala sesuatunya dengan indah, dengan terarah.
Ambarawa, 6 Januari 2015

Dok: Inet



Selasa, 06 Januari 2015

Mantra Dari Negeri Dongeng

Dahulu kala, ketika alam semesta berbicara dalam satu bahasa, hidup peri kecil bernama Venus. Peri itu bermimpi selamanya bisa menulis dongeng, peris seperti tokoh dalam cerita yang pernah ia baca. Menurut Venus, dongeng adalah dunia serba mungkin. Membuatnya tidak takut menjadi siapapun, apapun. Dongeng memberi Venus kekuatan untuk terbang tanpa sayap, melukis cakrawalanya sendiri dan berlari menggapai keinginan paling mustahil sekalipun.

            Sebagai peri kecil, Venus memiliki kebiasaan yang jauh berbeda dari teman-temannya. Venus suka menjelajah dan terbang ke mana arah, termasuk ke negeri manusia di mana terdapat satu ruang penuh buku. Ruang yang di kepalanya terpetakan sebagai surga.

 Suatu ketika, Venus sedang menjelajahi ruang itu, tiba-tiba matanya tertumbuk pada satu buku misterius. Tepat di halaman 311, ia menemukan sebuah mantra yang berbunyi:

            Majulah terus hai juru-juru dongeng!
          Tangkaplah setiap sasaran tujuan hati. Dan jangan takut!
          Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar
          Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

Venus begitu terpesona pada mantra itu. Seolah ada kekuatan magis yang meruap dari tiap aksara. Kemudian ia berjanji akan mengingatnya ketika lelah dan ingin berhenti melangkah.



Note: satu-satunya fakta dari tulisan di atas adalah  quote W.B. Yeats dalam novel Perahu Kertas. Saya suka sekali sama dua kalimat terakhir: Segala sesuatunya ada, segala sesuatunya benar. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.


Sabtu, 27 Desember 2014

Dear Waktu

Demi masa

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat-menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran


            Pertama-tama aku ingin berterimakasih kepada bapak Edi AH Iyubenu yang menulis sangat bagus mengenai perspektifnya pada waktu. Reflektif dan mengundang galau yang sama.

            Rupanya bukan aku saja yang cemas bahwa waktu, dengan segala otoritasnya, memperlakukan hidup manusia serupa rol film. Gulungan diputar, mengalami berbagai kejadian, sebentuk kenangan kemudian habis begitu saja sebagai ending sebuah cerita. Entah berapa miliar hidup yang telah dilumatnya menjadi papan nama dan gundukan tanah belaka.

            Bukan masalah, itu hakmu, waktu. Sepertinya pula kamu khusus diciptakan Tuhan untuk itu. Hanya ingin menguraikan sedikit pandanganku tentangmu. Betapapun cemasnya, aku juga tak bisa memungkiri kesempatan yang diberikan olehmu untuk mengerti. Mengerti berbagai macam hal, merasai warna-warni cerita yang membentuk kenangan, hingga akhirnya tak lagi eksis di dalammu.

            Setiap orang, mungkin telah dan akan menemukan definisinya tentangmu. Ada yang menganggap kamu itu ilusi, yang kita tak pernah tahu kapan dimulai dan berakhirnya. Ada yang menganggapmu nyata senyata-nyatanya kenyataan. Bahkan ada yang tidak menganggapmu sama sekali, dalam kata lain, kamu pun fana dan hanya bisa dihitung oleh mereka yang menempati dunia fisik saja.

            Aku sendiri belum menemukan definisi tentangmu. Lebih tepatnya masih plin-plan. Ketika seseorang membahas kefanaanmu, aku setuju. Lain hari, saat ada yang menganggapmu nyata, aku sepakat tanpa syarat. Maka boleh dibilang, aku tak paham pada dasarnya. Gagal mereduksimu menjadi satu  kalimat yang bisa dimengerti orang.

Selama ini tentangmu hanyalah:

1 menit = 60 detik
1 jam   = 60 menit
1 hari   = 24 jam
1 tahun            = 365 hari

           Begitu saja.

            Sederhana memang, tapi, dalam kehidupan kamu selalu lebih dari itu. Kamu menamatkan riwayat orang-orang yang bahkan berusaha menguraikanmu. Orang-orang macam Einstein yang berbicara soal relativitas, Newton tentang gaya dan gravitasi, serta banyak lagi. Selanjutnya, kamu pun melahirkan manusia seberani Soekarno, searif Mahatma Gandhi juga selegenda Madonna. Seolah-olah mereka sekadar perbendaharaan yang mengisi eksistensimu sesungguhnya.

            Semua luluh lantak di hadapanmu. Hangus tak bersisa selain karya-karya yang atas seizinmu akan dikenang sebagai sejarah dan teori. Tak ada yang bisa menyiasatimu dengan uang, rayuan bahkan ilmu-ilmu mereka.

            Dear waktu.

            September 2012, kamu menghadirkan seseorang yang menggenapi, di sisi lain merumitkan kehidupanku, mereka: kami. Tepat September tahun selanjutnya, kamu menghancurkan hidupku dengan mengambil ayah yang aku sayangi lebih dari apapun. Bahkan bila mungkin, lebih dari diriku sendiri. September tahun selanjutnya lagi, tahun ini, tahun 2014, kamu merenggut temanku dengan cara yang aku gagal paham hingga sekarang. Dan itu membuatku takut bulan September. Pada masaku nanti, kamu juga akan menghibisiku dengan senjata yang kaupunya kan? Senjata berupa masa yang membuat bayi menjadi remaja, dewasa menjadi tua, hingga segala kekuatan masa muda melemah jadi pantangan-pantangan lalu berhenti pada mati (struktur umum, tapi mati adalah bab sendiri yang punya kepentingan terhadap nyawa manusia. Tak ada hubungannya dengan umur).

            Waktu,

            Apalah artiku di hadapanmu. Apapun kamu, telah terbukti bahwa manusia dengan segala miliknya tak pernah mampu mencegahmu. Kamu istimewa. Dan aku yang begitu kecil ini tak ingin terjebak dalam lingkaran definitif akanmu.

            Aku hanya tak ingin merugi. Karena ada sebuah surat yang secara khusus membahasmu, bahwa siapapun yang tidak memanfaatkanmu dengan bijak, akan ditenggelamkan oleh ulahnya sendiri. Meskipun aku belum memahamimu, perkenankan aku belajar agar tidak termasuk orang-orang merugi.


            Merugi, menakutkan bukan?

Selasa, 16 Desember 2014

Saya tidak pernah menyesali apapun dalam kehidupan ini. Konsekuensi dari keputusan-keputusan yang saya ambil, atau mengalami semacam ketakutan absurd pada masa depan. Tidak pernah.

Satu-satunya hal yang  saya sesalkan adalah itu.

Saya sangat mencintainya. Bahwa dia telah memberikan begitu banyak hal, pelajaran juga pengertian yang saya bawa hingga hari ini. Tapi bahkan tidak satu kali pun saya berterimakasih. Tidak satu kali pun saya menunjukan betapa dia serupa obat yang menyembuhkan. Sebagaimana penawar paling mujarab yang menamatkan segala jenis racun. Bagi saya sendiri, dia selalu lebih dari itu.

Saya ingat, waktu itu untuk pertama kalinya saya takut pada kehidupan. Untuk pertama kalinya tidak menginginkan apapun. Sedikit berlebihan, memang. Tapi waktu itu, takut adalah semacam representasi bahwa saya tidak percaya dia pergi. Menghilang begitu saja tanpa akan saya temui kembali. Bagaimana bisa saya meneruskan hidup yang seperti itu?

Saya punya sangat banyak waktu:

Saat ngobrol di beranda, beberapa kali di terminal saat dia tak pernah ke mana pun selain di samping saya, saat dia pulang dengan wajah letih, saat dia masih menyuruh saya makan setiap hari meski tahu bahwa orang dewasa tak butuh diperingatkan, saat dia bertanya ‘kapan pulang?’ tapi tak pernah saya jawab dengan serius, dan sangat banyak saat di mana dia menjadi sosok penting tanpa pernah saya sadari.

Saya menyesal.

Walaupun waktu dengan ribuan detiknya perlahan menghapus luka, kehilangan akan kembali berkali-berkali. Membuat saya tidak bisa tidak menangis. Karena saya tidak bisa, benar-benar tidak bisa dan takkan pernah, mengatakan rindu padanya secara langsung. Saya tidak tahu, adakah masa sesederhana ‘kemarin’ yang mampu membuatnya ada di depan mata. Sekali saja.

Dia, pria paling hebat dalam hidup saya.

Yang tidak memberi semua keinginan, tapi memenuhi kebutuhan. Yang selalu pelit pujian, tapi saya justru termotivasi karena itu. Yang tidak akan beranjak sebelum saya pergi dengan aman. Yang memberi perlindungan sekaligus kenyamanan lebih sempurna dari pelindung terbaik manapun. Yang tersenyum sambil berkata “tidak apa-apa”, padahal saya manusia brengsek yang gagal dalam ujian. Yang memberi saya kekuatan bahkan dia saat-saat lemahnya.

Saya mencintainya. Tapi kalimat ini hanya akan membusuk tanpa pernah didengar atau dimengerti.

Kenapa saya idiot sekali. Kenapa saya tergoda dengan hal-hal picisan, tapi tidak memahami kesejatian selagi bisa mengungkapkan. Kenapa saya tidak ada di saat dia berada pada masa sulit, padahal kesempatan terbuka sangat lebar. Kenapa saya buta terhadap itu semua!

Dan sekarang,

Dia tidak pernah beranjak dari sana. Sekaligus tidak ada sebagai ‘sosok’ kapan pun saya ingin menemuinya. Tentangnya sekadar hari-hari lalu, hanya ruang kosong tak berpenghuni, baju yang dilipat rapi tapi takkan dipakai lagi, hanya album dan senyum yang mengekalkan kenangan, juga sejenis semangat yang saya simpan sendiri.

Untukmu, aku ingin jadi seseorang.


Salam sayang. 

Senin, 15 Desember 2014

Bakat Apa Yang Akan Kau Pilih?


Jika hidup ini seperti ujian dengan soal pilihan ganda, maka seandainya disuruh memilih bakat, saya akan memohon pada Tuhan Yang Maha Pengasih yang tentunya tidak pilih kasih agar memberi saya kemampuan menggambar.

Saya bukan sedang kufur nikmat atau mencoba menghitung karuniaNya yang tidak terbatas. Tidak, saya tidak sekurang ajar itu. Tapi sampai sekarang saya masih tidak mampu menutupi kekaguman mendalam terhadap tangan-tangan ajaib yang bisa memindahkan ide/pemandangan/kritik ke dalam kertas. Itu keajaiban dunia dalam tataran nyata. Bahkan teknologi photosop atau fotografi pun mungkin tidak kelas sama sketsa buram. Ya, sketsa buram yang kesannya mirip oret-oretan itu seperti punya daya. Ada sesuatu yang lebih dari sekedar arsir, sesuatu yang bisa dimaknai dan terkadang seolah menyindir.

Saya selalu iri pada mereka yang mampu bersahabat dengan pensil. Seolah persahabatan itu sanggup menciptakan dunia estetika sendiri bahkan hanya dengan hitam dan putih. Jujur, mungkin iri ini mencapai taraf obsessive compulsive. Sampai-sampai tidak terima kalau salah satu dari mereka minder sama efek 3D yang perlahan meminggirkan sketsa dan ilustrasi. Kawan, aku saja percaya kalau teknologi tidak akan mengalahkan buatan asli manusia. Okelah sama-sama bagus, dan mungkin punya nilai estetika juga, tapi sejak kapan mesin bisa menciptakan rasa dan karsa? Tanganmu punya daya lebih untuk melukiskan semiotika. Lagi pula teknologi tidak tercipta untuk mengalahkan seni.
Dan lagi, menggambar itu semacam keahlian yang tidak bisa diganggu gugat. Sejak SMA saya menjadi yakin kalau menggambar/melukis cuma bisa dilakukan oleh orang-orang terpilih. Meski bisa dilatih, hasilnya tetap beda, antara orang yang dibekali bakat dengan amatir gigih sekalipun. Buktinya, meski dulu latihan keras di kelas seni rupa, nilai teman yang berbakat selalu lebih tinggi. Antara 85-90. Sementara kisaran nilai saya hanya 70-85. Itu pun bahagia minta ampun kalau dapat 85.

Hal ini tentu berbeda dengan menulis, main musik, akting dan beretorika. Kemampuan-kemampuan itu bertumpu pada latihan. Makanya ada quote anonim yang menyatakan bahwa bakat cuma berperan 20%.

Namun, terlepas dari apapun bakat kita, terpenting adalah menemukan passion dan menekuninya. Karena hidup itu sendiri bukan pilihan, tapi anugrah dan pemberian. Ada yang selalu tahu kebutuhan mendasar kita.


Jadi, tekuni saja passionmuJ