UA-51566014-1 Catatan Harian

Jumat, 01 Mei 2015

Tentang Anak 15 Tahun Paling Tangguh Di Dunia (Kafka on The Shore)




            “But metaphors can reduce the distance."
"We're not metaphors."
"I know, but metaphors eliminates what separates you and me.” 
           
Pergi, ke mana pun itu, agaknya merupakan cara terbaik untuk menguji seberapa tangguh dirimu. Coba, bagaimana seseorang bisa merasa tangguh sementara ia selalu berada dalam zona nyaman. Selalu berada di tengah-tengah apa yang dikenal dan mengenalnya.

Itulah yang berusaha dibuktikan oleh Haruki Murakami. Ia mengeluarkan sang tokoh utama, Kafka Tamura, dari kehidupan standar yang mengantarkannya hingga usia 15 tahun. Sebagaimana stereotipe tokoh utama, Kafka memiliki pikiran yang lebih mendominasi sikapnya ketimbang tata nilai yang ditetapkan masyarakat umum. Tidak tertarik pada pendidikan, cerdas, gemar membaca, tidak tertarik pada pertemanan apalagi memiliki sahabat. Segala yang ada padanya, ditentukan oleh pengetahuan yang didapat dari buku dan seseorang lain bernama gagak. Seseorang lain itu adalah Kafka dalam bentuk bisikan yang secara halus mempengaruhi perilakunya.

Kafka On The Shore, bisa dibilang merupakan roman tentang anak 15 tahun yang berusaha menjawab pertanyaan alamiah berwujud “Who am I?”. Pertanyaan yang menggebu-gebu minta dijawab itu, pada akhirnya justru menjadi simalakama yang mengantarkan Kafka pada masalah. Payahnya, masalah tersebut bukan saja mengenai krisis identitas, tetapi juga semacam Oedipus complex dan sibling relationship yang sangat kompleks. Dalam petualangannya, Kafka secara (tidak) sengaja membuktikan kutukan ayahnya yang seorang perupa terkenal dunia. Bahwa ia akan membunuh sang ayah, terlibat asmara dengan ibunya dan menyetubuhi kakaknya. Adakah kutukan yang lebih indah dari itu?

Memang dalam perjalanannya Kafka tidak melaksanakan kutukan itu sendirian. Ada tangan-tangan tidak terlihat yang membantunya mewujudkan hal tersebut. Seperti pria tua aneh bernama Nakata, Hoshino, Oshima dan lainnya, mereka tak ubahnya benang merah yang menghubungkan Kafka dengan arti dari semua. Termasuk dua perempuan yang sangat mempengaruhinya secara psikologis, yakni nona Saeki dan Sakura. Secara teori, mereka adalah kakak dan ibu biologis Kafka. Namun siapa yang peduli pada teori, di kehidupan nyata, segala kejadian akan terjadi begitu saja. Protes pada takdir hanyalah sesuatu sekonyol mempertanyakan kenapa setelah hari minggu itu hari senin, atau kenapa H tidak marah karena diletakkan setelah I. Oke, bingung kan? Kalian akan semakin bingung jika tidak menyelesaikan membaca novel setebal 597 halaman ini.

Membaca Kafka On The Shore sama lelahnya dengan memperhatikan hidup seseorang. Seperti kebanyakan novel terjemahan (jepang) pada umumnya, Kafka On The Shore hampir mendapat predikat membosankan jika anda tidak tahan dengan teka-teki dan filosofi. Murakami terkadang nampak basa-basi saja jika membicarakan tokohnya. Muncul satu per satu tanpa penjelasan apapun. Terlebih gaya berceritanya yang berganti sudut pandang tiap bab. Semakin membuat anda tidak sabar dan bertanya-tanya di mana letak kewarasan si pengarang.

Untungnya, hal-hal membosankan tidak terjadi dari awal hingga akhir cerita. Selalu ada pelangi setelah badai, kan?

Kafka On The Shore pun demikian. Ketika teka-teki mulai membuka dirinya untuk dipahami, segala sesuatunya jadi menarik. Seolah pengarang merancang cerita dengan sangat detail. Ada begitu banyak sign yang tiba-tiba saja mempesona. Hal-hal yang tampaknya imajinasi belaka, nampak rasional. Kecurigaan Kafka bahwa dirinya tak setangguh yang diduga, tidak terbukti. Persiapan fisik untuk menghadapi pelarian memang tak berguna, namun jiwa dewasa yang terperangkap dalam tubuh 15 tahun itu sangat membantu.

Yang lebih menarik lagi, di luar konteks cerita, pengarang berhasil menempatkan para tokoh sebagai orang cerdas bukan dari kata-kata saja. Melainkan dari cukilan pengetahuan yang seperti ingin membuktikan diri, bahwa satu sama lain memang layak untuk sebutan pintar. Misalnya, di sini kamu bisa tahu musik-musik klasik, nama-nama filsuf dan ajarannya, sedikit tentang spritiual dan cara terbaik membunuh orang dengan bayonet.


Dengan demikian, Murakami semacam memberikan referendum bahwa dirinya memang penulis kelas dunia. Tidak berlebihan kalau kita menyebutnya sebagai Franz Kafka-nya Jepang, setuju kan?

Rabu, 25 Maret 2015

Fiksi (Halo, Aku dalam Novel)

            Hari ini saya merasa (sedikit) senang. Setelah beberapa hari membaca buku teori yang tak mengundang selera, saya memutuskan pergi ke perda untuk meminjam fiksi dan teori juga (huuh!). Untuk fiksi, hal pertama yang akan dan selalu saya lihat adalah pengarangnya, bukan judul, demi menjamin bahwa tidak ada waktu yang terbuang untuk membaca cerita konyol dan menye-menye. Awalnya saya sempat ragu karena belum pernah membaca tulisan pengarang itu satu kalimat pun. Tetapi ketika melihat biografinya, saya menjadi tertarik. Berani-beraninya dia menulis “bercita-cita menjadi pria tampan”. Kan nyebelin. Walaupun, tentu saja, terserah karena itu novel dia. Untung klausa tersebut diikuti oleh klausa penenang lainnya, yakni: “yang mungkin tidak bakal kesampaian”.

            Ini nih, orang PD cenderung songong yang nggak takut dibilang gaje. Nulis mah nulis aja. (Dan saya suka)

            Saya suka pada tokoh yang ia tuliskan. Ada sedikit kemiripan antara kami. Walaupun, setidaknya, saya masih memiliki tanggung jawab moral agar hidup secara normal. Karena, kalau sampai diri ini tidak punya teman, maka itu menyengsarakan mental dan satu-satunya yang harus disalahkan adalah jiwa. Mungkin orang akan menganggap saya sakit jiwa kalau membentak siapun yang menanyakan privasi. Menganggap saya sakit jiwa kalau menyendiri dan terus sendiri seperti hidup di dunia lain. Meski di satu sisi, tidakkah sakit jiwa adalah klaim seseorang terhadap orang lain yang hidup di luar batas norma? Ya, bisa jadi, bagi mereka yang sakit jiwa, kitalah yang sebenarnya sakit dan membutuhkan pengobatan. Lihat saja, berapa banyak di antara kalian yang memilih pura-pura nyaman padahal merasa buruk. Mengambil keputusan yang menyiksa diri untuk terlihat keren dan membanggakan. Bagi saya sih, hal semacam itu bukan lagi keputusan, melainkan sebuah kompromi. Jalan damai antara prestise dengan sistem hegemoni.

            Tapi, yah, mau bagaimana lagi. Jiwa punya tanggung jawab kepada diri untuk terlihat baik-baik saja. (Mungkin akibat kita tidak cukup kaya untuk membeli planet sendiri, dan menyeleksi siapa saja yang boleh masuk ke kehidupan kita).

           Tokoh utama dalam novel itu seorang laki-laki. Seorang mahasiswa Internasional, kaya dan pintar (tentu saja), mandiri dan. . . saya curiga kalau sebenarnya dia bukan makhluk sosial. Tapi, yang paling menarik darinya adalah dia seperti memiliki kehidupan sendiri. Sangat cuek, (kau harus tahu bahwa ada jenis cuek yang mendekati brengsek, dia tipe seperti itu). Kecuekannya sudah mendarah daging, sampai-sampai dia merasa lebih bahagia kalau tidak memiliki seorang pun di hidupnya. Tapi sialnya, dia justru memiliki semua, orang tua kaya, teman yang senantiasa peduli, pacar dan segala bentuk perhatian.

         Saya suka tokoh itu karena dia sangat jujur, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Kejujuran yang sangat mahal menurut saya. Karena untuk melakukannya, peraturan pertama adalah kau tidak boleh peduli pada orang lain. Tidak sedikit pun, apalagi banyak. Kepedulian hanyalah racun yang membuatmu jadi empati, kemudian palsu.

            Tentu saja saya tak ingin seperti dia. Orang yang tidak punya teman dan sendirian. Tapi, kalau di kehidupan nyata ada orang seperti itu, saya pasti kagum. Oh ya, saya punya teman (kalau dia menganggapku teman) yang hampir seperti itu. Perempuan, pendiam dan penyendiri. Saya suka bertanya-tanya, sebenarnya dia punya hati atau tidak, kenapa tidak bosan menjadi sendiri. Tapi ya sudahlah, kan itu hidup dia. Saya juga cuma tokoh sampingan yang kebeteluan ada saja.

            Saya pikir, hal paling menyenangkan di dunia ini adalah menjadi diri sendiri. Sama seperti tokoh di novel itu. Sama seperti penulis novelnya (barangkali), sama seperti siapapun yang tidak menggunakan kosmetik pencitraan dalam menjalani hidup. Lagi pula, percuma, pencitraan hanya membuat orang menyukai kita yang palsu, kita yang bukan kita. Berhentilah pura-pura kalau kau ingin dicintai apa adanya.

            Hmm, oh ya, satu lagi, hal yang saya sukai dari novel itu adalah anti-mainstream, semacam narasi yang digunakan untuk mendobrak hegemoni. Saya sudah rela membuang waktu ketika membaca paragraph kedua di novel itu:

            “Tokoh utama dalam tulisan saya, yang jelas, dia tidak boleh cantik. Cih! Saya benci orang-orang cantik karena mereka biasanya tolol. Saya akan membuatnya sangat jelek. Jelek sekali. Tidak punya teman, sendirian. Mungkin, gagu.”
           
            Itu paragraph favorit saya. Akhirnya, ada juga penulis yang tidak menggunakan ‘cantik non manusiawi’ pada tokohnya, bahkan bisa dibilang merobek-robek horizon ekspektasi pembaca. Saya benci orang-orang cantik karena mereka biasanya tolol.

            Mungkin, kalau suatu saat menulis novel, saya pun akan membuat tokoh yang punya kelemahan. Tidak, saya juga tidak mau pake cowok ganteng, karena biasanya mereka playboy dan cuma pintar merayu. Saya merasa cukup dengan deskripsi seperti ini:
          

              “Aku tidak tampan. Kulitku lebih coklat dari sawo paling matang sekalipun. Secara fisik, tak ada yang bisa dibanggakan dariku. Kecuali kau tipe anomali yang menyukai tubuh tinggi tegap, rambut hitam legam. Meski begitu, aku memiliki cukup banyak teman perempuan, dan sebagian dari mereka menyukaiku. Jika tidak mengakui secara langsung, biasanya mereka mengatakan lewat tatapan mata. Kenapa aku bisa tahu? Mudah saja, kalau kau cukup cerdas semua bisa dibaca, mata adalah jendela hati paling murni.
            Aku suka perempuan tentu saja. Tapi bukan mereka. Gadis-gadis bodoh yang perasaannya tumpul. Kalau harus jatuh cinta, aku akan jatuh tanpa pernah bangun pada perempuan yang membuatku seperti bercermin. Sehingga aku selalu tahu sebelah mana yang salah, selalu tahu persis tanpa perlu pura-pura.
          Ngomong-ngomong, namaku L. Kepanjangannya ada di presensi kuliah, di kartu pers mahasiswa, di korps sukarelawan, di struktur organisasi senat paling atas dan tentu saja, di hati orang itu. Kalau sudah ketemu, aku akan merangsek masuk dalam hatinya, dalam hari-harinya.”


            Terakhir, novel itu menggunakan sudut pandang ‘aku’. Ini favorit saya juga. Sudut pandang aku adalah yang terbaik dalam fiksi, karena bisa menyabotase interpretasi pembaca. Memang banyak yang bilang bahwa sudut pandang ‘aku’ tidak objektif. Tapi buat apa, kan ini fiksi. Objektif hanya untuk skripsi dan karya ilmiah.

            Oke, sudah dulu ya. Have a nice time.

             

                

Rabu, 18 Maret 2015

Hujan selalu sama.

Mungkin segala hal di kehidupan kita berubah. Orang datang dan pergi, fisik bertumbuh, lingkungan berganti rupa, semua yang menjadi aspek di tubuh waktu berubah. Berganti menjadi mereka yang lain. Tapi tidak dengan hujan.

Hujan selalu sama. Karena itu, saya menyukainya.

Saya menyukainya karena dia seperti kotak waktu yang tetap. Kita bisa mengenang apa saja ketika ia tiba, mengingat kejadian dulu sekali, menikmati wangi tanah terguyur air saat ini, atau membayangkan suatu waktu ketika rambut mulai beruban dan hanya ada kita dengan rintik itu. Semacam kurun waktu tertentu, saat segala yang kau lakukan terasa tepat. Ketika hujan, kita tidur lebih nyenyak, makan lebih enak, membaca lebih konsentrasi, menulis lebih lancar dan melamun lebih indah. Kelebihan-kelebihan itu, tidakkah menyenangkan jika dialami saja? Tak perlu dihindari, bahkan, hey… mereka cuma air.

Air yang turun dalam kuantitas tertentu yang intens. Estetis. Seperti musik klasik atau nada-nada melankolis.

Sepanjang sejarah naik motor, tiga kali saya jatuh, dan ketiga-tiganya terjadi akibat menghindari hujan. Kali terakhir saya memutuskan untuk berhenti menghindar. Kemudian menggantikannya dengan berusaha menikmati, sebagai kompensasi atas rasa kesal. Lalu, ia mulai bersahabat, bahkan sudah lama saya ingin hujan-hujanan seperti bertahun-tahun dulu. Hanya saja, itu terlalu anomali untuk orang dua puluh tahunan.

Saya suka menjulurkan telapak tangan untuk merasakan tetes air itu.

Tidak mengherankan kalau banyak sekali prosa yang mengungkit hujan di dalamnya. Tapi, sebenarnya, saya menyukai hal-hal simpel seperti suaranya, baunya, suasana dan elemen-elemen yang membuat hujan tidak sederhana.


(Hujan, kalau kau bisa merasakan, seperti sebuah ajakan bagimu untuk mengenang).

Minggu, 15 Maret 2015

Let's Talk About Film



·       Setelah kemarin sempat bingung nyari materi tentang pembuatan film (karena mbah gugel pun bahkan ngasih info dikit banget), saya pengin sharing sedikit tentang produksi film. Barangkali suatu saat ada yang berada pada posisi saya. 

      Jenis-jenis film

a. Film Dokumenter: merupakan film yang menyajikan realitas tentang sesuatu. Misal film Moana (1926), Anak Seribu Pulau (Miles Production). Film documenter tidak pernah lepas dari tujuan penyebaran informasi, pendidikan dan propaganda bagi orang atau kelompok tertentu.

b. Film Cerita Pendek (Short Film): bedurasi di bawah 60 menit. Banyak dihasilkan oleh mahasiswa jurusan film atau kelompok yang menyukai dunia film.

c. Film cerita panjang: Berdurasi 90-100 menit. Film bioskop tergolong dalam film ini, missal Dances With Wolves.

d. Film jenis lain:

            1. Film perusahaan, digunakan untuk kepentingan isntitusi, seperti alat bantu presentasi.
          2. Iklan Televisi, diproduksi sebagai sarana informasi baik pengenalan produk maupun layanan masyarakat.
            3. Program Televisi, missal Variety Show, TV Quiz, Talkshow dan liputan/berita.
            4. Video Klip, sarana produsen musik untuk memasarkan produk melalui medim televisi.

·         Cerita Ini Punya Siapa?

S  Skenario menampilkan segala hal yang  akan diwujudkan dalam film. Baik berupa audio, visual, ruang, waktu, peran, aksi dan semua. Berkaitan dengan ini, diperlukan adanya hak cipta antara produser dan pemilik cerita. Namun tidak selalu pemilik cerita adalah penulis skenario film tsb.

Hak produser:

1. Mengadaptasi cerita.
2. Mengedarkan cerita dalam bentuk film dll
3. Mengedarkan informasi seputar pembuatan film
4. Memproduksi Merchandise untuk keperluan promosi
5. Bekerjasama dg media lain utk promosi.
6. Mengikutsertakan film dalam berbagai lomba.
7. Mengikutsertakan pemegang hak cipta dlm semua promosi.

Kewajiban produser:

1. Menjaga nama baik pemegang hak cipta.
2. Membayar kompensasi.
3. Memenuhi akomodasi pemegang hak cipta.

Pakai format Film atau Video?

Awalnya teknologi film masih menggunakan sistem analog (dari pita kaset ke pita kaset).  Namun karena teknologi itu mengalami penurunan kualitas gambar tiap dipindahkan, maka sistem ini mulai ditinggalkan. Beralih pada sistem digital dari pita kaset ke computer, popular lewat mesin AVID sejak 1989.

·         FILM

Awalnya dibuat dari bahan dasar seluloid. Berukuran 35 mm, 16 mm, 8 mm yg menunjukan lebar pita seluloid.

·         VIDEO
·         Rasio Shooting: perbandingan antara durasi bahan baku yg dibutuhkan dengan durasi film.
·         Rasio Aspek:
Memulai Shooting

Sumber: Effendy, Heru. 2009. Mari Membuat Film. Erlangga: Jakarta

Secara garis besar sebuah produksi film dibagi menjadi tiga aktivitas:
            1. Praproduksi
            2. Produksi
            3. Pascaproduksi
Mari kita bahas yang pertama dulu:
1. Praproduksi
            Hal pertama sekali sebelum membuat film adalah adanya beberapa orang yang beritikad memproduksi ide cerita ke dalam bentuk audio-visual. Ide cerita dalam sebuah film merupakan awal dari segalanya. Mungkin semacam ‘taawudz’ sebelum baca Al-qur’an, atau preambule dalam pembukaan undang-undang. Sementara orang-orang tersebut adalah mereka yang menduduksi posisi penting dalam produksi film, yaitu:
·         Pelaksana produksi (penentu budget film, kalo di struktur organisasi kelas jaman SD itu macem bendahara), Sutradara (panglima di lapangan), penulis skenario (terkadang penulis skenario juga merangkap sutradara), Penata Artistik, Juru kamera (cameramen).
·         Memilih pemain inti: bagian ini juga krusial terutama untuk masalah penokohan nantinya. Tapi pemilihan pemain ini bisa berupa paketan: a. 1 pemeran utama 2 pemeran pembantu, b. 1 pemeran utama 1 pemeran pembantu, c. 1 pemeran utama 3 lebih pemeran pembantu.
2. Produksi
      Secara KBBI, produksi adalah kata benda. Tapi di kenyataan, jangan harap ia seperti benda mati yang gampang diapa-apain. Praktiknya, produksi lebih mirip kata sifat yang membutuhkan ‘semangat’ dan ‘keberanian’ merampungkan.
      Untuk memulai sebuah produksi, timpro biasanya berpatok pada jadwal produksi. Selain itu berpedoman pula pada call sheet alias keterangan rinci mengenai setting cerita yang akan diambil, scene berapa saja yang harus diambil serta berapa yang akan tercover hari ini. Biasanya ini tugas pelaksana produksi nih, selain membudget, juga membuat skenario kerja dari penulis skenario serta membuat breakdown. Breakdown itu sendiri adalah rincian dari tiap adegan, mulai dari kegiatan sampai kebutuhan bahkan dananya.
      Contoh call sheet dan breakdown






3. Pascaproduksi

Setelah semua proses pengambilan gambar selesai, hal yang perlu dilakukan adalah mantengin paskaproduksi:

·        Proses editing gambar


·      Proses pengisian musik dan special effect
·    
        Dubing/ sound effect
·     
        Quality control

·     
       Mastering/ penggandaan

SSUMBER:  Hendry TM. 2006. Yok Bikin Film. Laba2 Publisher: Jakarta

Senin, 02 Februari 2015

Surat Untuk 17 Bulan Tepat

Selamat malam ayah nomer satu di dunia. . .

Apa kabarmu di sana? Di tempat yang serupa tera incognito dalam kepalaku. Hanya serupa, ya, bagaimana pun serupa tak memiliki padanan yang cukup membahasakan sesuatu. Maka, serupa itulah yang membuat rindu ini tak terjelaskan. Hanya rindu. Tanpa rupa, tanpa warna.

Hari ini tepat 17 bulan kita tak bertemu. Rasanya lama sekali, lama yang tak terkira.. seperti bertahun-tahun dan kenangan terus menjadi larat bersama waktu yang menyeret ke masa-masa di depan. Hari ini, hari biasa ketika aku merindukanmu, rindu gigantis yang memaksaku menulis sebuah surat. Lagi dan lagi, surat yang tak pernah sampai padamu. Bahwa yang kulakukan ini tak ubahnya ngobrol dengan batu, tak menghasilkan apa-apa selain aktivitas yang tak jauh beda dengan gila. Tapi sudahlah, aku memang berniat terus melakukannya. Menulis surat rindu yang terlalu bertepuk sebelah tangan. Surat yang memang harus kutuliskan, atau tidak aku akan gila betulan.

17 bulan waktu yang sangat lama. Aku melewatkan banyak peristiwa yang takkan pernah sampai kepadamu sebagai cerita. Padahal di antara 17 bulan itu ada beberapa hal yang seharusnya bisa membuatmu tersenyum. Eh salah, kau tak pernah melakukan itu, di depanku kau hanya akan berkelakar seolah itu hal yang sangat biasa. Remeh temeh yang nyaris tanpa harga. Yang hebatnya, kelakarmu pun tak membuat tersinggung sama sekali. Justru seperti pegas yang melentingkan objeknya untuk melompat mencapai sasaran. Aku sedih karena kau takkan seperti itu lagi.

Ada begitu banyak hal sebenarnya. Saking banyaknya, cerita seperti ikan tanpa air yang melompat-lompat. Untuk menghentikannya, eksekusi saja. Tapi pertama-tama, hal yang perlu kulakukan adalah mengubah sapaanmu menjadi pa. Karena menggunakan ‘ayah’ dan ‘mu’ merupakan hal yang tidak kita. Aku pikir bapa akan tertawa sendiri saat membaca sapaan yang mirip aristokrat kurang kerjaan, ‘ayah’ istilah dari belantara mana itu?

Pa, kehidupan memang berjalan baik-baik saja. Tapi sepi jadinya, rumah yang tanpa suara dan canda-tawa tercerabut habis, menjadi keseriusan yang semakin miris saat dibercandakan. Bapa harusnya tau, ibu dan aku adalah orang-orang nyaris kaku yang membutuhkan orang sepertimu, pembercanda nomer satu yang bisa mengubah luka sebagai ladang tawa. Dalam hal ini, aku pikir Gita agak mirip denganmu, sayang hanya dalam taraf ‘agak’ sehingga tak sepenuhnya terganti. Takkan pernah. Makanya aku tak suka pulang, dan buat apa? Bersama ibu, kami hanyalah dua orang yang bertangis-tangisan saat mengenangmu. Dan itu tidak lucu, sama sekali tak lucu, jika mengingat kejenakaan yang entah kenapa bijak juga, tapi dengan suasana mengharu biru. Mata berkaca-kaca dan ujung-ujungnya kangen yang obatnya cuma doa. Dua orang ini hanya akan menciptakan setting sinetron Indonesia yang penuh air mata, sedikit memalukan memang. Kau pasti takjub melihat kami mengenangmu demikian, pa.

Tapi di atas rasa malasku untuk pulang, rasa malas yang tumbuh bahkan sebelum kau tiada, aku merasa bersalah pada ibu. Aku sayang ibu, tapi sebagian diri ini juga Malin Kundang yang sering tak berniat pulang. Benar bahwa aku merindukan kampung halaman, tapi itu kampung halaman berpuluh tahun lalu. Sebelum Negara api menyerang dan semua elemen berada dalam equilibrium sama rata. Rasa-rasanya yang mengikatku pada tempat itu hanya ibu dan sarehanmu, pa.

Maaf karena aku domba kecil yang selalu terpana pada hijaunya rumput tetangga. Dan tentu saja, hujan emas di negeri orang lebih baik daripada hujan batu di negeri sendiri.

Baiklah, ini terlalu sensitif untuk dibicarakan. Lagi pula masa depan selalu tanda tanya, bisa jadi besok pagi aku terbangun dan jatuh cinta lagi sama Pesarean. Desaku yang kucinta, pujaan hatiku. Prettt… haha seharusnya memang aku ditendang dari tempat itu. Tempat yang dengan sendirinya malah… ah, sudah. Kenapa aku jadi tak nasionalis begini!

Eh, pa, sekarang aku sedang mendengarkan lagu Ebiet. Musisi favoritmu yang lagunya seperti sajak, stanzanya puitis dan suaranya sejernih elegi patah hati. Seleramu tinggi juga, pa. Tapi maaf, aku menyukai Ebiet bukan karenamu. Karena dia memang layak disukai. Lihat saja, musisi Indonesia manakah yang akan menulis lirik ini:

Gugusan hari-hari indah bersamamu…
Camelia,
Bangkitkan kembali, rinduku mengajakku ke sana
Ingin kuberlari, mengejar seribu bayangmu..
Camelia
Tak peduli kan kuterjang, biarpun harus kutembus
Padang ilalang

Tiba-tiba langkahku terhenti, sejuta tangan tlah menahanku
Ingin kumaki, mereka berkata…
Tak perlu kau berlari, mengejar mimpi yang tak pasti
Hari ini juga mimpi
Maka biarkan. . .
Ia datang… di hatimu

Ah, aku curiga jangan-jangan Ebiet ini tidak makan nasi saking puitisnya. Ia makan kata dan metafora. Aku jatuh cinta semenjak kau sering memutar lagunya pada pagi buta. Semenjak aku masih suka mencabuti ubanmu demi mendengar sepotong dongeng bahkan.

Lagi, Ebiet ini pandai sekali menyanyikan duka. Kau tau pa, dua hari selepas kepergianmu, aku menangis saat memutar Camelia IV. Lagu yang kau nyanyikan beriringkan gitar yang petikannya belum penuh dihapal. Ada lirik yang membuat jangtungku berhenti sejenak.

Kematian hanyalah tidur panjang, maka mimpi indahlah engkau…

Aku ingat dengan tepat, bagian ketika kau menceritakan Ebiet kehilangan Camelia, lalu dia menuliskan lagu berseri tentang puisi dan pelitanya yang telah meninggal itu.
Adakah kau di sana mengingatku? Mengingat dua puluh tahunku, 17 tahun adikku dan bertahun-tahunmu yang memberi begitu banyak makna pada kami.
.
.
.
Pa, aku hanya mau menurut kata Seno Gumira Ajidarma. Bahwa perpisahan sesungguhnya terjadi bila dua orang benar-benar saling melupakan. Dan keberadaan seseorang tidak ditentukan oleh eksistensinya, melainkan oleh sebuah makna dalam sekumparan kenangan.

Terakhir, aku ingin memberitakan, bahwa mulai bulan depan aku adalah mahasiswa tingkat akhir yang sedang bergelut dengan skripsi. Doakan aku, di horizon manapun kau berada. Bahwa meski bukan feminis, aku tangguh dengan caraku, dengan dua puluh tahun pendewasaan penuh cerita. Ingat dengan cermat, pa, aku akan terus menulis surat padamu. Agar rinduku abadi dalam kata dan doa. Selamat tidur panjang, tetaplah berbahagia dalam ketiadaanmu. Salam sayang.