UA-51566014-1 Catatan Harian

Rabu, 26 Februari 2020

Bias Gender dalam Kasus Perselingkuhan


Masih ingat video perempuan dilempari uang dan dimaki-maki sebagai pelakor? Iya, yang pakai bahasa jawa itu? Kalau tidak ingat atau belum lahir waktu itu, ya nggak apa-apa sih. Yang akan saya bahas di sini adalah bagaimana stigma perselingkuhan di masyarakat.

            Semua manusia (termasuk kita) punya potensi berselingkuh dari pasangan. Kalau di cerita romance wattpad mungkin selingkuh dilakukan oleh badboy yang dasarnya playboy. Tapi, di realita, selingkuh adalah penyakit yang bisa menjangkit siapa saja. Termasuk pria baik-baik, orang yang memiliki pasangan cantik/ganteng, mereka yang keluarganya tampak baik-baik saja.

            Selama ini jika ada yang selingkuh maka akan langsung menyorot ke dua pihak, yaitu pasangan sah (istri) dan pihak ketiga (pelakor). Misalnya dengan mempertanyakan tingkat kebecusan istri sehingga suami sampai berselingkuh. Atau dengan menghujat pelakor sebagai pihak paling berdosa. Video menghujani pelakor dengan uang yang sempat viral (dan komentarnya), membuktikan bahwa masyarakat gemar sekali mengkambing-hitamkan satu pihak. Parahnya, saking kalap memaki-maki, jadi lupa pada aktor utama dalam drama perselingkuhan itu sendiri: si suami.

            Berikut stigma yang masih melekat di masyarakat kita dalam melihat kasus perselingkuhan:

·         Mewajari Laki-laki Selingkuh

Actually, this is so sick. Saya membaca sebuah artikel di Kompasiana judulnya ‘Mengapa Pria Baik-baik Bisa Selingkuh Juga?’ Oke, pada awal artikel diberi pengantar bahwa artikel tidak ditulis untuk menuduh istri tidak melayani suami dengan baik. Tapi sepanjang artikel, yang ditulis adalah justifikasi mengenai ego dan keinginan pria yang perlu di-boost. Misalnya seperti pria butuh seks bergairah, ingin dipuji di depan umum, istri perlu menjaga penampilan. Tidak ada satu point pun yang merujuk pada kekurangan pria atau ketidakpahamannya akan komitmen sehingga selingkuh.

Oke setidaknya dari artikel tersebut saya jadi mengerti bahwa laki-laki ingin ini ingin itu banyak sekali. Poinnya adalah, selingkuh dianggap sebagai hal wajar karena pria baik-baik pun tetap manusia biasa. The hell! Seolah-olah perempuan yang harus melakukan segala usaha agar pernikahan tetap berjalan, dan laki-laki adalah makhluk yang egonya mesti dijaga. Tanya kenapa???

Di masyarakat, alih-alih mengoreksi ketidakpahaman akan konsep berkomitmen bagi pria, malah lebih suka mengurusi pelakor dan ketidakbecusan istri. Apalagi dengan istilah puber ke dua yang mewajari jika pria jadi lenjeh seperti bocah. Padahal di dunia medis tidak ada istilah puber kedua. Puber hanya terjadi satu kali, yaitu usia 9 – 14 tahun (perempuan) dan 12 – 16 tahun (laki-laki). Dan istilah puber kedua itu entah dari mana dijadikan tameng atas keganjenan pria.

·         Self-Gratification & Intimacy

Menurut Mark Manson (penulis buku best seller The Subtle Art of Not Giving A Fuck), dalam diri manusia terdapat dua kebutuhan mendasar, yakni kebutuhan akan natural desire/kepuasan pribadi (makanan enak, good sex, tidur, games), dan kebutuhan akan intimacy (merasa dicintai dan keinginan berbagi kehidupan). Kedua hal ini harus seimbang dalam sebuah hubungan. Sayangnya, kita tidak bisa mendapat intimacy tanpa mengkompromikan self-gratification, dan sebaliknya. Yang terjadi dalam perselingkuhan adalah salah seorang terlalu mencari kepuasan pribadi dalam hubungan, dan kalau tidak dapat, mencari kepuasan pada selain pasangan. Sedangkan dalam berkomitmen, untuk mendapatkan intimacy seseorang perlu menekan self-gratification, misal kalau merasa tidak dihargai ya tanya dan dengarkan alasan pasangan mengapa mereka melakukan itu.

Pada point ini, jelas bahwa selingkuh merupakan akibat dari komunikasi yang tidak baik, bukan mengakibatkan komunikasi jadi tidak baik. Kalau ada yang kurang dari pasangan ya dikomunikasikan dong, itulah fungsi mulut. Sekaligus, justifikasi bahwa perempuan kurang melayani atau pihak ketiga terlalu menggoda, adalah bentuk ketidakpahaman kita akan konsep komitmen itu sendiri. Karena yang paling perlu dikoreksi adalah perselingkuhannya, apa yang perlu dibenahi dari pelaku dan memperbaiki trigger-nya.

·         Kambing Hitam Bernama Pelakor

Wuh, perempuan semangat dong bahas ini, tercium bau-bau antusiasme haha. Mari buka lagi memori perempuan dihujani uang. Adakah dari kalian yang justru risih melihat itu? Kalau ada, mari kita bergandengan tangan.

Memang wajar bila istri sah marah, tapi tidak lantas berhak melakukan public shaming dengan memvideo dan memviralkan, biar apa?

Lihatlah dengan mata terbuka bahwa yang paling tepat “dijak gelut” adalah pasangan sendiri. People don’t belong to people, jadi pria selingkuh ya karena mereka memutuskan berhianat pada komitmen. Laki-laki kan bukan benda mati yang bisa direbut. Mereka  homo sapiens alias binatang yang berpikir, dan pikiran itu seharusnya digunakan mengontrol perilaku, bukan asal jadi dimana pun dengan siapapun.

Sayangnya lagi, hujatan terhadap pelakor ini sebagian besar datang dari perempuan juga. Sejujurnya, dengan melabrak dan mengatakan bahwa suami direbut, perempuan telah melakukan objektifikasi terhadap laki-laki, yaitu memperlakukan manusia layaknya barang. Your husband is not your property. Tapi dengan mengajak bicara, kita menghormati mereka sebagai subjek dalam hubungan, dan menghormati diri sendiri karena berhasil menahan hasrat untuk tidak internalized misogyny.

Ngomong-ngomong soal penyebab pelakor dihujat, ada istilah queen bee syndrome yang di dalamnya terdapat internalized misogyny. Sindrom ratu lebah ini merasa terancam bila ada perempuan lain yang memiliki kualitas lebih. Sedangkan internalized misogyny adalah hal dalam diri perempuan yang membenci perempuan lain. It takes two to tango. Pada kasus perselingkuhan kan yang bersalah dua pihak, tapi yang mendapat sorotan hanya pihak ketiga. Kalau ada perempuan lain melakukan kesalahan ya ditegur, bukan dipermalukan dan direndahkan. Jika melakukan public shaming, kita hanya menyenangkan jiwa-jiwa penghujat tanpa memberikan solusi.

Demikian hal-hal yang masih menjadi area abu-abu dan menghasilkan penghakiman tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Dalam hal ini, terjadi bias gender atau pemihakan pada salah satu gender, padahal selingkuh melibatkan banyak faktor. Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai encouragement atas stigma bahwa perempuan selalu benar. Tetapi bentuk ekspresi (miris) atas ketimpangan terhadap perempuan. Pun bila yang selingkuh perempuan, kesalahan tetap pada individu yang bersangkutan.  Mohon maaf pula bila ada kata yang menyinggung.

Selasa, 04 Februari 2020

Lessons From The Incident That Change Me Forever



Murakami is right on this saying:

One day you will experience an incident that changed you forever as a human being.

I guess I have experienced that moment myself. I used to think that everyone was kind, at least there’s kindness in someone’s heart even when society think otherwise. It is us who lack of understanding or simply don’t know their personality actually are.

I didn’t change my whole perspective about it though.

It’s just, at certain degrees I’m kinda shifted my pov into this:

Kindness isn’t absolute. It’s so relative depends on where and what kind of angle we look at. Yep, for me, kindness is like a view surrounded by people and its beauty depends on the positions of the observer. It might be good for us but means otherwise to others. And we can’t force it.

When you think you do something good, who knows that it could offends some people. Those people will spat angrily in instant. Don’t be surprised that even your close friend can hate you right away, [or you’ll be surprised that nobody trying to understand your motives]. Anger knows no bounds. It is because the kindness you’re committed to doesn’t fit someone else’s shoe. You aren’t wrong, neither do them.

Not everyone will accept your good intentions. Furthermore, they will hate you for unbenefited them. Especially those who close enough to have expectation on you.

The incident that change me forever got me these lessons:

      1)      Love people as much as you want. But don’t forget to put some distance. Proximity is a fertile ground for expectations. And expectation never ceased to hurt people.

 2)      Think carefully before making decisions that involve others.

      3)      Some people aren’t really wick toward us. Maybe they do bad out of knowledge. Forgive them for your peace.

       4)      Words have powerful impact on human memories. Watch your words.

      5)      Hurt is a matter of perspective. But still people gonna detach you if you are in a different term. So, get a grip, stand on your feet even when it’s mean to be all alone. Stay sane.

I’m most engaged with point 1, tho. Sometimes we damage our mental health by putting too much expectation on ourselves. It goes the same with putting expectation on someone else’s shoulder.

Okay, that’s all the things I wanna share about. Screw tenses.

Peace.



Kamis, 23 Januari 2020

His Way of Loving


Hai. Hari ini saya mau cerita dua hal yang bikin saya bersyukur. Saya merasa perlu menulis ini supaya nggak lupa cara Dia membuat saya takjub.

            Pertama, pas kuliah awal saya pernah ngekos yang bayarnya per tahun. Sudah dibayar lunas, eh pas baru ditempati sekitar sembilan bulanan saya disuruh keluar sama ibu kos. Alasannya karena mau ditempati anak kos baru. Lah  yang bener aja buk? Kan saya bayar setahun yang artinya 12 bulan, kok baru 9 bulan udah diusir. Mana ibu kos ngomong nggak ada manis-manisnya. Di situ saya sedih banget, mau tinggal di mana apa tidur di masjid aja ya. Mana budget saya buat kos perbulan cuma 300 ribu, dan susah naudzubillah nyari kosan harga segitu di Tembalang.

Akhirnya saya nyari kos bareng temen sejurusan yang nggak ada akrab-akrabnya. Tapi dari teman itulah saya kemudian ketemu kos baru dengan segala kemudahannya yang langka banget kalau dicari di Tembalang. Misal harganya yang 250k/bln (bayangkan coy mana ada kos harga segitu di Tembalang, bahkan di tahun 2012), minum dan listrik gratis, nggak ada piket, ibu kosnya baek bat (saya pernah nyuci belum kelar tak tinggal kuliah, eh pulang-pulang udah nangkring di jemuran), makan gratis di hari minggu, setiap puasa dapat takjil. Tapi yang paling berharga adalah teman kosnya yang kayak keluarga.

            Akhirnya saya sadar, kalau ibu kos pertama nggak ngusir, manalah mungkin saya kenal temen-temen kos rasa saudara. MaksudNya mungkin biar saya nggak sendirian, punya temen-temen yang menghibur soalnya tahun 2013 bapak saya pergi. Biar saya adaptasi dan akrab dulu sama temen-temen itu.

            Kedua, Desember 2017 saya mengalami kejadian yang menyedihkan di tempat kerja. Sedih banget pokoknya (to the point I thought about killing myself to prove something to some people). Alay banget? Iya, tapi orang kalau pikirannya lagi nggak beres mana sadar. Karena nggak betah banget, 2018 saya memutuskan resign dari tempat yang kayak neraka itu. Selang beberapa minggu saya sakit. Saya jarang sakit, tapi kali itu lumayan serius sampai berat badannya jadi 40an doang. Pas periksa diagnosanya beda-beda, kadang usus buntu, kadang tipes. Lalu disuruh kakak rontgen, dan taraaa… something is terribly wrong with my lungs.

            Akhirnya lagi, saya mikir bahwa mungkin itu caraNya biar saya istirahat. Kalau diterusin mungkin tubuh ini gagal catch up sama kehidupan. Soalnya aneh sih, kadang suka demam siang-siang, bediri lima belas menit aja mau semaput. Jadi yaudah deh istirahat aja. Plus saya bisa bonding lebih sama keluarga. Bisa bantuin kakak, ibu, bapak-bapak smua yang ada di siniii ehehe. Dan terpenting, supaya saya nggak semena-mena menggunakan tubuh ini, lebih rajin makan dan blabla.

            Jadi, saya menyadari kalau kejadian sesialan apapun pasti ada hikmahnya. Yang diperlukan hanyalah waktu untuk menemukan itu. Jangan buru-buru benci, mungkin orang [yang kita judge] antagonis justru gerbang kita untuk ketemu orang-orang baik. Saya justru pengin bilang makasih sama ibu kos pertama. Everyone who shared a certain period of time with us is important. Mereka punya peran tertentu barangkali, karena itu, jangan benci apalagi menganggap rendah. Kalau kata stoisisme, nggak satu orang pun sanggup menyakiti kita, kecuali kita izinkan. Take control of our own perception, so we could see thing as it is, without labelling it as good or bad.


P.S : I suggest you to read Filosofi Teras. Especially when you felt like WTF-ing everything.  

Minggu, 17 November 2019

Tentang Laut Bercerita





Matilah engkau mati…
Kau akan lahir berkali-kali

Saya sering menangis ketika baca buku, tapi Laut Bercerita, adalah buku yang benar-benar mematahkan hati. Terlalu banyak realita menyakitkan, yang seperti dongeng tapi merupakan kenyataan bagi manusia Indonesia semasa Orba. Betapa mengerikan bahwa manusia bisa berlaku sedemikian jahat pada sejenisnya.

Laut Bercerita adalah buku yang merangkum kisah pemuda bernama Laut, bergantian dengan sang adik, Asmara. Saya tidak akan membicarakan presentasi bukunya, melainkan bagaimana buku ini mempengaruhi perasaan saya. Sudah lama pula saya tak merasa demikian kosong selepas menamatkan sebuah buku. O Leila, why did you do this to me?

Meskipun lahir di masa Orba, tapi saya tidak dibesarkan zaman itu. Ketika ingatan saya masih tipis-tipis terbentuk, ada beberapa manusia yang justru sedang berusaha membangun Indonesia baru. Indonesia yang tidak dinikmati oleh mereka, melainkan kita: adik, anak dan cucu para pejuang reformasi.

When I was child, I used to think that college students are anarchist. Saya besar di keluarga yang mengagumi pemerintah, karena itu, tentu saya menganggap mereka yang berdemo tak lebih dari kang protes belaka. Mat keluh. Mereka memprotes, tapi tidak membawa Indonesia kemana-mana selain keadaan yang lebih parah. Kerusakan fasilitas, tersendatnya transportasi dan terror.

Seiring waktu, terutama setelah kuliah, pandangan saya memudar lalu berhenti. Justru, para mahasiswa kritis itu barangkali orang-orang paling menderita. Tahu kesengsaraan rakyat (termasuk pula bapak-ibunya), ingin protes tapi terikat kampus, terikat posisi mereka sebagai harapan dan beban keluarga. Ketika protes gagal dianggap pengacau, saat berhasil pun tak dapat melakukan apa-apa karena kuasa bukan di tangan mereka. It’s hard to be awake people.

Membaca Laut Bercerita, pembaca diberi kesempatan menjadi Biru Laut Wibisana, mahasiswa Sastra Inggris cum aktivis gerakan mahasiswa dalam menentang Orba. Dalam persona Laut (begitu dia dipanggil), pembaca disuguhkan pada terror yang ditimpakan pemerintah. Bahwa mahasiswa adalah daging segar yang sedang digodog agar masak, tetapi diganggu lalat beterbangan. Lalat dalam hal ini intel, begitu jelinya mengawasi bahkan aktivitas mubah semacam diskusi buku. Jika ditangkap, matilah engkau mati, kembali pun kau akan pulang dengan trauma. Aktivis yang tertangkap akan disiksa sampai mengakui jaringannya; disetrum, berbaring di balok es berjam-jam, disengat semut rangrang, digantung terbalik, apa-apa yang tidak manusiawi, jauh lebih hewani dari terpidana korupsi.

Mengalami jadi Laut, hati saya seakan nggak tertolong. Maksud saya, lihat hidup kita, mudah dan penuh harapan. Sementara di hidup Laut, berharap pun terasa neko-neko. Meski dia senatiasa menggumamkan jargon perjuangan, reformasi, bangsa dsb, Laut sendiri tak lepas dari perasaan bahwa dirinya muluk-muluk. Entah dia akan merasakan Indonesia baru atau tidak
.
Setelah menjadi Laut, pembaca akan dibawa ke sudut pandang Asmara. Adik Laut yang logis itu bahkan kesulitan bersikap rasional kala kehilangan sang kakak. Ia sepi ditinggalkan oleh Laut, benar-benar ditinggal tanpa kabar. Kehilangan itu membungkus keluarganya ke suatu kondisi aneh. Ibu dan bapak mereka tetaplah orang tua yang bersikap seolah Laut masih ada. Menolak kemungkinan bahwa Laut dibinasakan, sehingga mereka tetaplah keluarga dengan empat piring di meja makan, kunjungan ke kamar Laut, dan perbincangan seolah sosok itu sekadar pergi ke kota. Kehilangan yang tanpa kabar memang aneh, pasti sulit menganggap keluarga kita tiba-tiba berhenti eksis. Seperti kata sang penulis, Ketidaktahuan dan ketidakpastian kadang-kadang jauh lebih membunuh daripada pembunuhan.

Mungkin deskripsi saya kurang sedih. Tapi kesedihan sesungguhnya adalah, saat pelaku kejahatan ham masih berkeliaran tanpa disentuh hukum, bahkan mungkin terlibat dalam oligarki negeri ini. Para orangtua, saudara, kawan, dan kekasih dari para aktivis hilang pun belum mendapat kejelasan hingga detik ini. Padahal setiap kamis mereka menuntut kepastian di depan istana negara, sudah 12 tahun.

Mereka yang hilang atau menghalami penghilangan paksa (desaparecidos), semoga tenang di manapun berada. Perjuangan kalian nggak sia-sia, kalian akan lahir berkali-kali. Dalam setiap tekanan, akan selalu ada pahlawan yang melesat menuntut kebebasan kaumnya. Laut Bercerita membawa sekeping hati kami untuk meletakkan penghormatan kepada kalian. Hostoria magistra vitae!


Jumat, 08 November 2019

Your Oddity

It's kinda surprising that you haven't kill yourself up to this point. You stand up straight as coral. A big lonely coral struck by waves, hurt from time to time. You're strong and fragile at the same time, waiting your time to fall.

What is heaven? You're barely know the difference between life and death. Both of it look the same.

You lose the ability to feel, not even bitterness. You are a coral struck by waves, everything just too much that you ceased to feel anything. You are a coral, as hard as stone as a heart could be.

What is the meaning of life? Is it even meaningful enough to be interpreted?

Rabu, 30 Oktober 2019

Percakapan #1



            “Sebenarnya yang lelaki inginkan adalah percintaan. Baik diwujudkan melalui persetubuhan atau sekadar berkasih-kasihan.” Kamu menyeruput kopi, melirik dia yang alisnya terangkat sebelah. Wajahnya meruapkan kesinisan. “Tapi perempuan menginginkan pernikahan beserta mahligainya. Kalian tak bisa berhubungan tanpa ekspektasi. Menurutmu siapa yang ribet di sini?”

            Dia mendengus, boro-boro menyeruput kopi, bersikap biasa saja pun tak bisa. Tema-tema semacam ini senantiasa mengubahnya jadi makhluk lain, seketika. “Kamu nggak tahu rasanya jadi perempuan. Setiap kali selalu ditanya kapan nikah seolah kami akan kadaluarsa.”

            “Ya salah masyarakat kan? Kita hidup di lingkungan yang memandang pernikahan sama wajibnya dengan bekerja di instansi.”

            “Tapi itu semua berangkat dari kebiasaan laki-laki yang menyukai daun muda. Dan…” Dia memelankan suara, sesaat tampak keraguan setengah sedih. “Dan memang perempuan punya jam biologis. Kami yang belum menikah di umur tiga puluhan sangat alert, berpotensi jadi perawan sampai mati.”

            Pada bagian ini kamu tak tahan untuk berseloroh. “Kalau begitu serahkan saja keperawanan itu padaku.” Langsung direspon pelototan marah yang sesungguhnya imut daripada menakutkan.

            “Mahal tauk! Lagi, masyarakat kita memandang nilai seorang perempuan terletak pada keperawanannya. Seolah itu suci, dan bila tidak, berarti kotor. Aneh sekali.”

            Kamu manggut-manggut, aneh memang. Di ceruk kepala kamu berpikir, di tempat yang menjunjung tinggi patriarki, menjadi laki-laki merupakan previlese. “Iya sih. Tapi menurutku anggapan begitu tak perlu didengarkan. Apapun yang orang bicarakan di belakang, kan bukan urusan kita. Dan soal jam biologis, kalau tahu, Rachel Weisz melahirkan di usia 48 tahun.”

            Decakan gemas terdengar. Benar dugaanmu, topik sensitif membuatnya terlalu aktif. “Wahai sobat open minded, kalau semua persoalan dikembalikan pada individu, kamu nggak akan nemu solusi untuk masyarakat. Menurutmu feminisme tumbuh dan berkembang karena individunya cuek terhadap stigma? Nggak. Mereka menyatukan suara untuk melakukan pembangkangan kolektif.”

            Frasa pembangkangan kolektif mau tak mau membuatmu tertawa. Tak ada yang tahu, betapa inginnya kamu menjeritkan pernyataan bahwa dia tak perlu melakukan pembangkangan apapun untuk diterima. Tapi, dengan selera apresiasinya yang menyedihkan, dia akan menuduhmu makhluk visual yang memuja penampilan. Fakta, orang cantik tak merasa dirinya cantik. “Lalu apa solusimu?”

            “Stigma yang sudah mengakar seperti itu perlu dilawan dengan penyadaran. Tapi, kesadaran hanya didapat oleh mereka yang menemukan jawab dari pertentangan-pertentangan dalam dirinya. Jadi belum ada solusi konkret. Mungkin, mungkin ya ini, harus dilakukan revolusi kesadaran bersama melalui berbagai media.”

            Termenung, secara tak sadar kamu memperhatikan dia mengiris kue. Entah mana di antara dua itu yang lebih manis. Bicara soal manis, kamu teringat bagaimana perempuan manis matrealis menjerat laki-laki borjuis. Mereka terang-terangan menginginkan materi, fisik adalah hal kesekian.

            “Oke. Perempuan memang cenderung direpoti paradigma masyarakat, itu satu hal.” Ujarmu berusaha mengalihkan topik. “Lantas bagaimana dengan cewek matre, mereka yang membidik laki-laki untuk materi, bukankah itu juga merugikan kaum kami?”

            Dia meletakkan garpu, tergugah topik yang baru saja kamu sodorkan. Kemudian dengan tenang berkata, “Simpel. Perempuan terobsesi menjadi cantik, sebab dunia kejam terhadap yang buruk rupa. Termasuk di antaranya lelaki, siapakah idola kalian jika bukan wanita cantik berutubuh aduhai? Nah, untuk mendapatkan cantik itu diperlukan uang buanyak. Kalian, para pria, menukar ketubuhan wanita dengan materi. Akui saja, pasangan cantik adalah kaki tangan ego untuk dibanggakan.” Dia menghela nafas lelah. “Maka terbentuklah lagi stigma, harga diri lelaki ada pada materi, sementara wanita pada penampilan. Katakanlah, pria membeli fisik, dan perempuan menjualnya untuk mendapat lebih.”

            “Loh tapi memang ada perempuan yang morotin laki-laki, setelah dapat malah ditinggal.” Tentangmu tak terima.

            “Tentu. Itu oknum. Tapi garis besarnya adalah tadi, disebabkan kebutuhan. Kalau bicara kasus per kasus, laki-laki pun sama, pergi dari komitmen setelah pasangannya ganti wujud.” Dia mengibaskan tangan. “Sudahlah, pria dan wanita itu selalu sama rendah atau sama tinggi, tergantung dari sudut mana kita melihat. Dan, hubungan pria-wanita adalah konstelasi domino yang kita tak tahu di mana pangkal dan muaranya. Wanita begini karena lelaki begitu.”

            “Eh makanku udah selesai. Pulang yuk.”

         Tiba-tiba dia berdiri, membayar untuk kemudian membaginya dua. Entah kamu harus bersyukur atau sedih atas egaliterismenya yang mendarah daging, membunuh maskulinitas dan menjadikanmu hanya sekadar kamu.
       Sebenarnya pula, kamu masih ingin diskusi, tapi sedang kekurangan amunisi dan jelas akan kalah dari bakat alamiah perempuan. Mereka berbicara 13 ribu kata lebih banyak dari pria tiap harinya. Jadi, lain kali saja.             
           
           

Kamis, 10 Oktober 2019

Keyakinan, Keadilan dan Kemanusian





Jika melihat sejarah, keadilan selalu datang dari orang yang menggugat, mereka yang berpikir lalu memberontak terhadap hegemoni. Tapi bolehkah kita, manusia, menggugat keyakinan?

            Berkeyakinan maupun tak berkeyakinan, merupakan hak asasi. Bahkan jika seseorang masih bertahan di dalam kekolotan, tak lantas menjadikan manusia lainnya berhak menjajah/memaksa untuk membenarkan satu pihak. Keyakinan, merupakan sesuatu yang begitu privat, melekat pada diri seseorang yang tak bisa diganggu gugat. Mengapa manusia terobsesi menjadikan sesamanya berada di bawah payung yang sama? Entah itu keyakinan beragama, berpolitik maupun berpendapat.

            Jika keyakinan merupakan hak asasi, maka ketidakmengertian kitalah yang menjadi akar dari pertentangan. Masyarakat, adalah ketidakmengertian kolektif yang kemudian menyulitkan. Memangnya omongan masyarakat masih pengaruh? Tentu saja! Para petinggi birokrasi yang galak-galak itu, memangnya bukan bagian masyarakat yang suka mencemooh? Dan untuk mendapatkan keadilan tersebut, hak individu yang mendasar itu, seseorang seperti harus mendebat suatu sistem.

            Tak ada yang salah dari anut-menganuti ideologi. Yang menjadikannya suatu noktah, adalah jika ideologi/keyakinan itu bertujuan menguasai manusia lain. Menginvasi sesuatu yang merupakan hak dasar, demi membenarkan ego suatu kelompok. Bermain perang dominasi, lalu melupakan kemanusiaan.

            Apakah masih penting kuantitas, bila kualitas manusia di dalamnya terabaikan? Apakah berkeyakinan secara membabi buta, bisa menuai keadilan secara merata, dan membahagiakan kita sebagai manusia?

            Tanyakan pada hati terdalam. Kalau jawabannya ya, coba koreksi seberapa banyak ego di sana.